KORANJURI.COM – Wakil Ketua Dewan Kehormatan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Farid Azhar Nasution mengungkap, lebih dari 20 juta gen Z tidak memiliki tabungan. Menurutnya, generasi muda harus mulai memikirkan untuk menyisihkan uang, minimal untuk tiga bulan ke depan.
“Itu untuk berjaga-jaga, kalau anda tidak punya tabungan untuk tiga bulan ke depan, itu ibarat main bola tanpa kiper,” kata Farid di Denpasar.
Ia menambahkan, tanpa tabungan ibarat berada pada kondisi rentan finansial. Jika terjadi situasi yang mendesak, berpotensi akan mengambil jalan pintas melalui pinjaman online atau pinjol.
Menurutnya, saat ini fungsi LPS hanya sebagai penjamin simpanan. Tapi pada 2028 tugas pokoknya akan dikembangkan ke penjaminan polis.
Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan menggelar kegiatan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It!) di Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, Senin, 24 November 2025.
Kegiatan itu diikuti oleh ratusan mahasiswa Universitas Hindu Indonesia. Like It! yang digelar di Bali menjadi series ketujuh dan seri penutup di tahun 2025.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, dalam investasi dikenal prinsip 3M yakni, Melek Digital, Merencanakan sejak dini dan Marathoners.
Destri menjelaskan, hampir seluruh instrumen investasi sudah terdigitalisasi dalam platform. Untuk mengakses alat investasi itu dibutuhkan kemampuan dasar digital.
“Investasi juga butuh perencanaan di awal, anda sebagai mahasiswa bisa menyiapkan itu sejak sekarang dengan menyisihkan uang setiap bulan,” kata Destri.
Ia menambahkan, investasi yang ideal dapat dilakukan dalam waktu jangka panjang untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
“Kalau kamu jadi marathoners maka akan mendapatkan buah dari investasi itu. Jangan jadi sprinters, kamu akan mencuat sesaat tapi juga bisa ambruk se ambruk-ambruknya,” jelasnya.
Risk appetite atau risiko yang diambil juga menjadi pertimbangan untuk memilih instrumen investasi yang tepat. Ada tiga risiko dalam investasi yakni, risiko kecil, medium dan tinggi.
Destri menjelaskan, investasi dengan risiko kecil dapat dilakukan melalui deposito. Sedangkan, risiko medium dapat dilakukan dengan dokumen obligasi retail dan high risk melalui saham.
“Untuk memilih instrumen investasi, sekali lagi tanyakan pada diri kita sendiri, kita orang dengan tipe yang mana, mau pilih yang high risk, medium atau tanpa risiko dengan deposito tapi tetap profit,” jelas Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. (Way)





