KORANJURI.COM – Setelah hampir 2 dekade penyelenggaraan, festival film Balinale ke-18 punya rumah baru dengan suasana pasir putih dan matahari terbit.
Pemilihan kawasan Sanur menandai babak baru yang menempatkan kawasan pantai ini sebagai titik pusat budaya yang berkembang di tingkat internasional.
“Kawasan ini menjadi kekuatan penyampaian cerita dan pertukaran budaya, Sanur menjadi lebih dari sekedar destinasi dan juga menjadi sumber inspirasi,” kata Pendiri dan Direktur Festival Deborah Gabinetti, Sabtu (26/4/2025).
Deborah menambahkan, dalam penyelenggaraan ke-18 inj, Balinale menghadirkan 60 film dari 25 negara, dengan 41 penayangan perdana serta partisipasi dari ratusan sineas, tokoh perfilman, dan profesional industri, yang mendatangkan lebih dari 5.600 pengunjung.
“Festival ini dikenal oleh para profesional industri melalui forum-forumnya di mana para pembuat film berkolaborasi dan berbagi, membangun afiliasi,” kata Deborah.
Dipilihnya kawasan wisata Sanur sebagai lokasi pelaksanaan Festival, kata Deborah, karena identitas budaya yang ada di Sanur yang dinamis. Selain itu, area pantai tersebut memiliki sentuhan kreatif untuk membangun dialog yang inspiratif.
“Balinale menyoroti Sanur ke panggung global, mempersiapkan panggung untuk peluang yang bermakna dan pengakuan internasional,” kata Deborah,
Sementara, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, pemerintah pusat maupun daerah terus mendukung pelaksanaan Balinale.
Menurutnya, festival film internasional ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan budaya, pendidikan, dan ekonomi kreatif di Indonesia.
“Kami mendukung Balinale 2025 dan Sanur sebagai pusat industri perfilman dan hiburan berskala global,” kata Menteri Teuku Riefky Harsya. (Way)





