KORANJURI.COM – Tri Hita Karana Universal (THK U) Reflection Journey yang digelar di Bali dihadiri oleh tokoh nasional dan pesohor dunia.
Pemerintah Indonesia juga terlibat dalam refleksi global yang disusul Deklarasi Istiqlal, saat kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 lalu.
Alissa Wahid dari Jaringan Gusdurian mengungkap, refleksi bersama itu menjadi pengingat untuk saling mendukung satu sama lain.
“Jadi tokoh-tokoh yang datang itu sedang diminta bekerja bersama satu sama lain, makanya yang diajarkan sederhana, mendengarkan,” kata Alissa Wahid, Sabtu, 14 Desember 2024.
Ia melanjutkan, refleksi global di Bali ini menyangkut banyak hal yang perlu dilakukan bersama. Saat ini banyak negara berlomba untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.
Indonesia juga tak luput dari situasi seperti itu. “Kita tahu ya, APBN kita tahun ini tekornya Rp400 triliun, tahun depan sudah dihitung akan tekor, udah dipastikan tekor itu Rp700 triliun, terus masyarakatnya belum sejahtera” kata Alissa.
Persoalan yang terjadi saat ini, kata Alissa, bukan saja membutuhkan solusi tapi juga perlu refleksi sejenak dari para pemegang kebijakan baik nasional maupun dunia.
Ia mengatakan, jaringan Gusdurian sebelumnya melakukan pendekatan melalui 17 perguruan tinggi keagamaan negeri. Pertemuan yang dilakukan membahas tentang ekologi, krisis iklim dan agama.
“Perguruan tinggi keagamaan itu seperti perguruan tinggi Hindu, Islam, atau Katholik dan seterusnya itu,” kata Alissa.
Pertemuan kedua Tri Hita Karana Universal (THK U) Reflection Journey akan berlangsung pada Minggu, 14 Desember 2024 di Kura Kura Bali, Denpasar.
Pertemuan itu akan dihadiri oleh para tokoh nasional dan perwakilan pemerintah Indonesia.
“Terkait permasalahan di Indonesia besok para tokoh agama akan hadir khusus membahas masalah Indonesia,” kata Alissa Wahid. (Way)





