KORANJURI.COM – Ekonomi Bali yang bersumber di luar pariwisata relatif kecil dan berpotensi mengalami penurunan. Sedangkan pariwisata juga sangat rentan oleh perubahan faktor eksternal.
Dalam penguatan ekonomi Bali ke depan, Pemprov Bali menyiapkan konsep Transformasi Ekonomi Kerthi Bali. Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, sektor pariwisata mendominasi sekitar 56,78%, pertanian 9,24%, kelautan/perikanan 4,21%, industri 14.63%, dan sektor lain 15,14%.
“Sektor pertanian, kelautan/perikanan dan industri kerajinan belum diberdayakan secara optimal, bahkan cenderung bergeser atau beralih ke sektor pariwisata,” kata Koster di Jayasabha, Denpasar, Kamis, 17 Februari 2022.
Sektor tersebut, lanjut Gubernur, akan diprioritaskan dan dikelola secara optimal agar mampu meningkatkan kontribusinya terhadap PDRB Bali.
“Sudah waktunya Bali mengembangkan perekonomian yang tidak lagi menggantungkan pada satu kantung sektor pariwisata,” ujarnya.
Sektor pariwisata diposisikan sebagai sumber tambahan dalam perekonomian Bali dan berperan sebagai lokomotif. Sehingga, sektor lain akan bergerak memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Koster menyuarakan, Bali harus mengambil pilihan mengembangkan perekonomian yang bersumber dari orisinalitas dan keunggulan sumber daya lokal. Pengembangan perekonomian Bali ke depan, mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Termasuk teknologi digital yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan digital sesuai dengan potensi Krama Bali secara efektif, efisien, produktif, serta bernilai tambah,” ujarnya.
Konsep Ekonomi Kerthi Bali saat ini dijadikan model transformasi ekonomi berupa ‘Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali menuju Bali Era Baru, Hijau, Tangguh, dan Sejahtera’.
Konsep itu dituangkan dalam dokumen perencanaan pembangunan oleh Kementerian Bappenas yang diluncurkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo, pada 3 Desember 2021 lalu di Bali. (Way)





