KORANJURI.COM – Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Kebudayaan di Jakarta, 26-28 Februari 2020 menghasilkan 8 kesepakatan.
Pertama, usulan program tahun 2020 yang telah dicatatkan dalam borang dan dibahas di Sidang Komisi, dikolaborasikan secara bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Kedua, usulan program pemerintah daerah tahun 2021 yang telah dicatatkan dalam borang dan dibahas di Sidang Komisi, dimasukan ke dalam perencanaan tahun 2021 melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Ketiga, penerbitan Surat Edaran untuk penyampaian informasi Penetapan Cagar Budaya tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi kepada Pemerintah Pusat.
Keempat, seluruh Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota) akan membentuk Tim Ahli Cagar Budaya pada tahun 2021.
Kelima, pelaksanaan Sertifikasi Tim Ahli Cagar Budaya mandiri akan dilakukan mendekati Lokasi Pemda berada dengan prinsip Gotong Royong.
Ketujuh, pembahasan kewenangan di Pemerintah Daerah terkait Film dan Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa bersama dengan Instansi terkait.
Ketujuh, asosiasi akan mendukung upaya Pemajuan Kebudayaan melalui partisipasi aktif dalam implementasi Kegiatan Prioritas Nasional yang akan disinergikan dengan Pemerintah Daerah.
Kedelapan, seluruh hasil Rapat Koordinasi akan disampaikan kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk dokumen resmi.
Sementara, Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengimbau, para pemangku kepentingan mengubah paradigma budaya, dengan menggali potensi yang dimiliki di setiap daerah, alam maupun tradisi.
“Kalau fokusnya kekayaan alam yang sudah ada, perencanaan 5 hari berkunjung itu, ya harus ada fokusnya, bagaimana kita mencari pemandu untuk bisa menemukan ciri khas Indonesia seperti burung, dll,” jelas Nadiem, Jumat (28/2/2020).
Tradisi yang ditawarkan kepada wisatawan, kata Nadiem, harus partisipatif. Bukan hanya berupa pertunjukan saja tapi tradisi yang bisa dilakukan oleh wisatawan.
Pengemasan budaya, menurut Nadiem, jadi kunci pemasaran. Pemerintah daerah tidak perlu lagi menggelontorkan dana yang banyak untuk memasarkan budaya yang mereka miliki. Sebagai gantinya, dapat memaksimalkan penggunaan medsos untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Word of mouth, cerita dari mulut ke mulut, jadi promosi paling efektif untuk tourism and tour,” kata Nadiem. (Way)





