DC Meresahkan, Ormas NTB Minta Polisi Pantau Perusahaan Leasing

    


Ormas dan LSM se NTB, geram dengan aksi oknum Debt Collector yang kerap meresahkan warga - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Banyaknya aksi perampasan kendaraan yang dilakukan oleh perusahaan Leasing Debt Collector membuat beberapa Ormas dan LSM se NTB, geram dengan aksi oknum Debt Collector yang kerap meresahkan warga.

Sebelumnya aksi perampasan motor menimpa Bahri (25) seorang pelajar asal Mataram yang kendaraannya dirampas oleh oknum Finance yang menggunakan jasa Debt Collector.

Hal serupa juga menimpa Bawe, seorang guru MTs Asal Lombok Tengah yang tak kuasa mempertahankan kendaraannya dirampas oleh sekelompok preman Debt Collector di daerah Cakranegara, Mataram.

Meningkatnya pengaduan konsumen dengan modus yang sama ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Mataram dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) NTB, masih belum bisa memberikan efek jera terhadap pihak Leasing dan oknum Debt Collector.

Abdul Rahman, Ketua LSM NTB Bangkit dan Koordinator Ormas Ampibi Kabupaten Lombok Tengah menyatakan, ulah Leasing dan Debt Collector sudah sangat meresahkan.

Belum lagi, mengenai ijin operasional mereka perlu ditertibkan oleh pihak terkait apakah mereka sudah mengantongi izin dari Pemda setempat.

“Jika Perusahaan Leasing tidak ditertibkan oleh Pemda setempat maka bisa berdampak pada pajak yang seharusnya mendongkrak PAD Daerah malah sebaliknya,” ujarnya, Selasa, 6 Maret 2018.

Abdul Rahman menambahkan, oknum tersebut sering mengabaikan Undang-undang Fidusia yang merupakan hak jaminan konsumen dan tidak jarang oknum tersebut main hakim sendiri.

“Kita berharap pihak Kepolisian sebagai pengayom masyarakat untuk menyoroti permasalahan ini dengan serius,” ujar Ketua Ormas Kasta NTB, Arnand.

“Kami dan beberapa ormas di NTB diantaranya, Laskar Sasak, Kasta NTB, Ampibi, NTB Bangkit, mengutuk keras aksi premanisme yang dilakukan oleh sejumlah Leasing dan oknum Debt Collector tersebut dan berharap ketegasan dari aparat Kepolisian dan pihak terkait dalam menyikapi hal ini, jangan sampai masyarakat mengambil tindakan sendiri yang bisa menimbulkan anarkisme” tandasnya. (Sarjono)