Tokoh: Tradisi Luhur Omed-omedan Bukan Ajang Umbar Pornoaksi

oleh
Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Bali Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitry Wedasteraputra Mahendradatta Suyasa - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Usai menyambut momen Nyepi Tahun Baru Caka 1945, ada tradisi unik di Desa Sesetan Kaja, Denpasar yakni Omed-omedan.

Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Bali Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitry Wedasteraputra Mahendradatta Suyasa mengungkapkan, tradisi tersebut sebagai upaya untuk memperkuat rasa asah, asih, dan asuh.

Menurutnya, tradisi itu cukup unik. Namun bukan berarti ajang untuk mengumbar nafsu birahi. Mengingat, dalam perkembangannya, Omed-omedan dilakukan dengan cara saling mencium antara pemuda dan pemudi.

“Di Bali khususnya Kota Denpasar, untuk generasi milenial punya tradisi unik Omed-omedan yang ada di Desa Sesetan. Tidak untuk mempertontonkan pornoaksi dalam budaya ini, justru esensi dari budaya ini agar para pemuda dan pemudi semakin akrab ,” kata Wira.

Dalam tradisi Omed-omedan, peserta terlebih dulu akan melakukan penyucian diri lewat persembahyangan bersama di pura setempat.

Usai persembahyangan dilanjutkan dengan pementasan Barong Bangkung. Setelah itu, barulah kelompok peserta memasuki pelataran pura.

“Baru Omed-omedan dimulai dengan dua kelompok yaitu kelompok laki-laki dan perempuan,” ucap Turah Wira yang juga sering menyaksikan momen unik ini.

Turah Wira menyampaikan keunikan dari tradisi ada pada saat kelompok laki-laki dan perempuan yang dibuat saling berhadapan dengan diiringi musik gamelan. Beberapa saat kemudian, tetua desa memberikan aba-aba agar kedua kelompok saling mendekat.

Saat itulah para peserta Omed-omedan dari masing-masing kelompok saling gelut (peluk), kemudian saling diman (cium), lalu disiram air. Sementara, peserta lainnya saling ngedengin atau tarik menarik.

“Maka itu Omed-omedan diistilahkan dengan tradisi saling kedengin, saling geluti, dan saling dimanin,” jelasnya

Wira berharap, tradisi unik yang menjadi warisan budaya nenek moyang itu akan tetap eksis, dan tidak akan pernah tergerus dengan kebudayaan impor.

Ia menilai, tradisi itu akan terus diingat oleh generasi milenial bahwa, setelah Hari Raya Nyepi selalu diselenggarakan tradisi unik di Desa Sesetan Kaja yakni Omed-omedan. (Bud/*)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS