KORANJURI.COM – Sebagai Daya Tarik Wisata (DTW) dunia, Desa Jatiluwih masih belum memiliki sejumlah fasilitas memadai seperti areal parkir.
Pengelola DTW menyiasati dengan membuka areal untuk menampung kendaraan. Itu pun belum representatif karena topografinya yang berundak.
Praktis, kendaraan yang membawa wisatawan harus mencari tempat terbuka untuk mendinginkan mesin. Pemerintah Kabupaten Tabanan masih memikirkan membangun sarana tersebut.
“Saya kan sudah bilang, saya baru empat bulan dilantik, kan tidak bisa menyulap Jatiluwih seperti simsalabim ya,” kata Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya di Tabanan, Sabtu (19/7/2025).
“Jadi PR ini sudah kita pikirkan, kalau ada PR pasti ada RP kan, nah RP nya ini nanti bisa ke pusat, provinsi,” tambahnya.
Namun, kata Sanjaya, pemerintah Kabupaten Tabanan berkomitmen untuk menata DTW Jatiluwih yang sudah diakui dunia.
Seperti diketahui, tahun 2012, desa kecil yang berada di kaki Gunung Batukaru itu diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Kemudian, mendapatkan pengakuan sebagai Desa Terbaik Dunia oleh UN Tourism tahun di 2024.
“Saya sudah sepakat dengan pengelola DTW, Perbekel, untuk mencari lahan agar tidak mengganggu eksotisme panorama di sini, parkir ada, alam juga terjaga,” kata Sanjaya.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Made Ayu Martini mengatakan, keberlanjutan di DTW di Jatiluwih harus tetap terjaga.
“Caranya bagaimana, seperti festival Jatiluwih ini jadi salah satu cara untuk menjaga, apalagi sudah mendapatkan apresiasi dunia dari UNESCO maupun UN Tourism,” kata Ayu Martini.
Pemerintah mencanangkan Pariwisata Lestari untuk menjaga sustainability. Menurutnya, konsep pariwisata lestari bukan saja menjaga alam dari kerusakan tapi juga dicari oleh wisatawan.
Sementara, Kepala Pengelola DTW Jatiluwih I Ketut Purna mengatakan, festival di Jatiluwih merupakan pesan yang disampaikan kepada dunia.
“Bahwa desa kecil di kaki Batukaru ini, Jatiluwih ini, punya cerita besar yang ingin dibagikan. Kita punya nilai, kita punya warisan, dan yang lebih penting, kita punya semangat,” kata pria yang biasa disapa Jhon Purna ini.
Dirinya meyakini, desa akan kuat jika ekonomi warganya tumbuh. Perhelatan yang digelar juga menjadi panggung bagi UMKM lokal yang menyajikan rasa, kerajinan, dan kreativitas khas Jatiluwih.
Masyarakat di Desa Jatiluwih membangun kesejahteraan mereka sendiri dengan cara kebersamaan. Nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal menjadi dasar untuk tumbuh bersama.
Jatiluwih tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tapi nilai-nilai yang dihidupkan oleh masyarakatnya. (Way)
