KORANJURI.COM – Tingkat deflasi di provinsi Bali pada bulan Juni 2024 semakin anjlok di angka -0,55%. Penurunan itu tercatat lebih dalam dibandingkan deflasi yang terjadi di bulan Mei sebesar -0,10%.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) merinci, Kabupaten Tabanan mengalami deflasi paling dalam sebesar -1,09% (mtm) atau 1,96% (yoy). Kabupaten Badung deflasi sebesar -0,63% (mtm) atau 2,75% (yoy).
Kota Singaraja deflasi sebesar -o0,53% (mtm) atau 2,14% (yoy) dan Denpasar mengalami deflasi sebesar -0,32% (mtm) atau 3,18% (yoy).
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi utama pada Juni 2024,” jelas Kepala Perwakilan BI Bali Erwin Soeriadimadja, Rabu, 3 Juli 2024.
Berdasarkan komoditasnya, deflasi terutama bersumber dari penurunan harga bawang merah, tomat, sawi hijau, kubis dan buncis.
Penurunan harga bawang merah dan tomat, kata Erwin, didorong oleh peningkatan rantai pasok saat berlangsungnya panen raya di berbagai sentra produksi di Bali.
“Pasokan pangan bersumber dari wilayah Songan dan Kintamani dan dari luar Bali terutama Bima NTB,” kata Erwin.
Sementara, laju deflasi di Bali sempat tertahan oleh peningkatan harga cabai rawit, beras, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, dan parfum. Kenaikan harga cabai rawit terjadi akibat belum pulihnya pasokan ke Bali.
Erwin mengatakan, ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Terutama, kenaikan biaya pendidikan bersamaan tahun ajaran baru. Serta, potensi kenaikan permintaan barang dan jasa selama liburan sekolah.
“Risiko lainnya yakni potensi penurunan pasokan beras dan cabai rawit serta berlanjutnya kenaikan harga rokok secara gradual akibat kenaikan cukai rokok di awal tahun,” jelas Erwin Soeriadimadja. (Way)
