KORANJURI.COM – Urban Farming menjadi solusi pertanian moderen di lahan yang terbatas. Pola pertanian baru itu bukan hanya tentang menghasilkan pangan.
Tapi juga menjadi media pembelajaran yang mengintegrasikan sains, teknologi, lingkungan, dan kewirausahaan.
Kemendikdasmen, melalui SEAMEO Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) menyelenggarakan Pelatihan Nasional Smart Urban Farming untuk Guru dan Tenaga Kependidikan di SMA Negeri 1 Denpasar, 7-10 Juli 2026.
Direktur SEAMEO BIOTROP Prof. Dr. Edi Santosa mengatakan, pelatihan menghadirkan pendekatan smart urban farming melalui penerapan Internet of Things (IoT) pada berbagai sistem budidaya pertanian perkotaan.
“Pertanian pedesaan lahan luas, tidak ada masalah dengan tanah. Kalau urban farming bertani di kota, kemudian didesain pertanian kota, bukan hanya menghasilkan tapi juga mewujudkan keindahan,” kata Edi Santosa di Denpasar, Selasa, 7 Juli 2026.
Ada 40 guru dan tenaga kependidikan yang mengikuti pelatihan. Mereka berasal dari sekolah tingkat dasar hingga sekolah menengah atas dan kejuruan.
Pelatihan ini membekali peserta dengan konsep serta praktik penerapan internet of things (IoT) pada lima komoditas utama pertanian perkotaan.
Antara lain, hidroponik, akuaponik, budidaya jamur pangan, tanaman buah dalam pot (tabulampot), dan budidaya ikan konsumsi.
Peserta juga diajak praktik langsung, penyusunan rencana tindak lanjut. Serta, kunjungan lapangan ke SMK Negeri 1 Petang untuk melihat implementasi smart urban farming secara nyata.
Edi menambahkan, pertanian mengajarkan banyak hal seperti pembelajaran matematika, sosial, biologi hingga religius.
“Menanam itu banyak yang tidak bisa kita prediksi, ada hama, perubahan suhu, air, ada ketidakpastian. Tapi tetap saja ada hal-hal yang kita sandarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kata Edi Santosa.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari SEAMEO BIOTROP dan IPB University yang memiliki kepakaran di bidang pertanian perkotaan, akuaponik, hidroponik, budidaya jamur, tabulampot, dan budidaya ikan konsumsi.
Kepala SMA Negeri 1 Denpasar M. Rida menambahkan, urban farming bukan sesuatu yang baru di lingkungan sekolah. Kegiatan bercocok tanam moderen itu dilakukan di ruang hijau yang ada di SMA Negeri 1 Denpasar.
“Jadi ini udah nyambung di dunia pendidikan dan sebenarnya ini sudah lama kita menerapkan urban farming, guru-guru pun banyak mengajarkan hal seperti itu, ternyata ini namanya urban farming,” kata Rida. (Way)
