Sang Dewi,
Singkirkan Jemari dari Wajahmu, Tak Perlu Kau Tutupi!
Keringkan Lelehan air di matamu, Tak Perlu Kau Tangisi
Siapa semestinya menanggung malu?
Bukan Kau, Bukan!
Para lelaki suamimu, semestinya mengerat sendiri kemaluan mereka, menaruhnya di pinggan perak di meja judi
Katakan:
Batang Lingga yang pantas sejatinya lelaki,
Bukan untuk pecundang yang hancurkan harkat diri
Jangan Takut, Drupadi
Aku Sang Hyang Wenang, membalut tubuhmu dengan selendang pelangi
Panjangnya dari kutub bumi hingga Swargaloka
Mata jalang Kurawa tak mampu tembus kulitmu yang tembaga
Walau Dursasana melenguh dan basah oleh peluh,
Tak kan sanggup ia menggulung selendang kehormatanmu
Mencibirkan Sang Dewi, tatap dengan sinis!
Katakan pada para lelaki yang kehilangan yang kehilangan Nuraini;
12 x 12 purnama 12 x 12 kali bulan mati
Kalian kan dicambuk di hutan-hutan tergelap
Istana Astina merintih diinjak-injak kaki raksasa,
Sementara para kawula mengaduh,
Melata dengan lapar mendera,
Dan Kau Dursasana!
Para lelakiku saat ini bukan tandingannya
Mereka bahkan bersekongkol,
Mengira perempuan sepertiku cuma pembangkit nafsu
Tunggulah Dursasana!
Tanganku sendiri yang dibalur dendam, akan melemparnya ke kawah kematian,
Sebab aku perempuan, pantang dihinakan!





