Ribuan Peserta Rakernas KAI Disambut Gubernur dengan Toast Arak Bali

oleh
Gubernur Bali Wayan Koster menjamu dan menyambut peserta Rakernas KAI dengan toast arak Bali - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Ada yang unik dari rangkaian kegiatan Kongres Advokat Indonesia (KAI) yang diselenggarakan di Bali. Dalam jamuan makan malam di Jayasabha, Denpasar, Gubernur Bali Wayan Koster mengajak toast arak Bali kepada Presiden KAI Tjoetjoe Sandjaja Hernanto dan para peserta kongres, Minggu (29/5/2022).

“Jamuan arak Bali sudah menjadi jamuan tamu kehormatan Gubernur Bali, seperti Duta Besar hingga Menteri sudah mencoba kualitas arak Bali yang disebutnya enak sekali,” kata Wayan Koster.

Menurut mantan Anggota DPR RI tiga Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini, dulu arak Bali tidak boleh diproduksi. Hal itu disebabkan, mikol tradisional itu dimasukkan dalam daftar negatif investasi.

Dikatakan, dari kendala arak Bali masuk dalam negatif list itu, Koster mengungkapkan, dirinya mengajukan perubahan seperti, Perpres yang mengatur tentang daftar negatif investasi ini.

“Jadi ini lucu, karena impor miras dibolehkan masuk, maka logikanya jadi terbalik. Yang lokal di larang tapi impor boleh masuk, kapan ekonomi petani kita kuat dan kapan petani kita dapat manfaatnya,” ujarnya mendapatkan aplaus.

Selain berjuang memberikan keberpihakan kepada petani yang mengeluti minuman tradisional lokal arak Bali, Koster juga menyebut ada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 69 Tahun 1994 tentang Pengadaan Garam Beriodium.

Bali memiliki potensi garam yang melimpah dan berkualitas. Namun ada Keppres yang dikuti Permen tentang garam Bberodium yang harus berstandar SNI. Maka, garam tradisional Bali tidak bisa menembus pasar ekspor.

“Saya pertanyakan, apa masalahnya kalau garam Bali kurang dari 20 persen yodiumnya. Padahal di daerah Karangasem, Klungkung, Buleleng, Jembrana penghasil garam tradisional,” jelas Gubernur Bali Wayan Koster.

“Kalau karena kurang yodium dan dampaknya akan stunting atau gondok, saya kira dari dulu masyarakat ramai-ramai gondok atau ramai-ramai stunting, ternyata tidak ada. Jadi teori 20 persen yodiumnya itu menurut Saya tidak akurat,” tambahnya demikian.

Dalam sambutan di Kongres Advokat Indonesia, Koster mengusulkan agar mengkaji sejumlah regulasi yang ramah terhadap produk impor. Menurutnya, hal itu akan mematikan ekonomi petani. Meskipun harga impor lebih rendah dan murah.

“Kalau yang lokal Kita hidupi, walaupun harganya lebIh tinggi, tapi yang menikmati itu adalah ekonomi lokal atau ekonomi Indonesia,” kata Gubernur Bali jebolan ITB ini.

Sementara, Presiden KAI H. Tjoetjoe Sandjaja Hernanto, memberikan apresiasi kepada Gubernur Bali, Wayan Koster.

“Kami mengucapkan terima kasih atas jamuan makan malam serta menghadiri Rakernas KAI di Bali,” kata Tjoetjoe.

Rakernas KAI dihadiri 1.000 orang. Para peserta datang ke Bali sejak H-4. Sedangkan Rakernas sendiri agendanya hanya satu hari.

“Peserta yang hadir memanfaatkan Rakernas sambil berwisata di Bali,” kata Tjoetjoe. (Way)