Rerata 5.000 Orang per Hari, Tanah Lot Tetap Diminati Wisatawan Domestik untuk Wisata Akhir Tahun

oleh
Tanah Lot Art & Food Festival #6, yang mampu menyedot kunjungan wisatawan hingga 20-30 ribu per hari - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Manajemen Operasional daerah tujuan wisata (DTW) Tanah Lot mencatat kunjungan wisatawan melonjak pada H-7 Hari Raya Natal. Rata-rata angka kunjungan mencapai 4.000 hingga 5.000 orang per hari.

Bahkan pada hari Natal, atau selama tiga hari berturut turut pada Kamis (25/12/2025) jumlahnya mencapai 5.893 orang per hari dan Jumat (26/12/2025) sebanyak 5.727 orang. Kemudian, pada Sabtu (27/12/2025) angkanya tetap di kisaran 4.872 orang.

“Kunjungan ke DTW Tanah Lot lebih didominasi wisatawan domestik,” kata Manager Operasional Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot I Wayan Sudiana, Minggu, 28 Desember 2025.

Dalam wawancara sebelumnya, Wayan Sudiana mengatakan, pihaknya merancang spot-spot khusus untuk membranding destinasi wisata Pura unik di atas tebing karang itu.

Seperti spot selfie Enjung Galuh sangat populer karena berlatar birunya lautan dan penampilan pura Tanah Lot di atas tebing batu karang.

“Spot swafoto ini sangat diminati wisatawan,” kata Sudiana.

Di lokasi yang sama juga sarat dengan cerita rakyat terkait dengan tempat dengan segala mitos yang menyertai seperti ular suci bercorak hitam putih.

Ular tersebut dipercaya sebagai penjaga situs religi di Pura Tanah Lot. Dipercaya, ular poleng itu melindungi dari pihak-pihak yang punya niat negatif.

Warga sekitar menghormati ular-ular itu dengan membiarkan hidup di habitat aslinya. Sebab, makhluk melata itu hanya ditemukan di sekitar kawasan Pura Tanah Lot bukan di tempat lain.

“Jadi kita hampir setiap hari berpromosi. Wisatawan berfoto di spot-spot yang kita sediakan dan diunggah di media sosial mereka, itu bagian dari strategi yang kita lakukan,” jelas Sudiana.

Tanah Lot menyimpan eksotisme mendunia. Kunjungan terbanyak umumnya dimulai pukul 14.00 WITA.

“Biasanya sebelum itu, mereka pergi kemana dulu atau makan siang, setelah itu baru berkunjung ke sini,” kata Wayan Sudiana.

Ia memberikan alasan, menjelang sore hari wisatawan masih sempat menikmati suasana di sekitar destinasi itu. Mereka umumnya menunggu waktu sunset dan tarian kecak. (Way)