KORANJURI.COM – Rakornas tahun 2026 kembali menegaskan seperempat abad perjalanan ITB STIKOM Bali, sebagai lembaga pendidikan sekaligus klinik edukasi yang melahirkan agen perubahan.
Lembaga di bawah Yayasan Widya Dharma Shanti itu menggelar Rakornas di aula ITB STIKOM Bali dengan diikuti seluruh pemangku kepentingan dari 23 lembaga. Termasuk, jajaran Universitas Teknologi Bandung (UTB).
Ada 11 hal mendasar yang menjadi isu yang akan dibahas untuk pengembangan institusi ke depan mulai dari peningkatan kualitas pendidikan hingga penjajahan kerjasama untuk go public.
Rektor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan menjelaskan, inovasi menjadi bagian utama untuk peningkatan kualitas.
“Kita harus meningkat, kita harus meroket untuk eksistensi kita dan juga peningkatan pemberian manfaat kepada masyarakat seluas-luasnya, itu juga jadi tujuan kita,” kata Dadang Hermawan, Sabtu, 31 Januari 2026.
Lembaga pendidikan teknologi informasi itu menyandarkan misinya pada lahirnya talenta-talenta digital dan ekosistem inovasi serta berperan aktif menjawab tantangan zaman.
Menurut Dadang, pengembangan kelembagaan bukan hanya pada lembaga pendidikan formal saja, tapi juga pendidikan non formal. Keduanya, saling mendukung.
“Sekolah formal ini harus dibekali dengan kompetensi dengan adanya ijazah dan sertifikat kompetensi yang ada di lembaga-lembaga kami yang non formal,” jelasnya.
Dadang juga melihat, peningkatan kualitas pendidikan harus melihat kondisi riil di lingkungan institusi. Masih adanya mahasiswa yang dropout kuliah atau siswa yang meninggalkan ijazahnya setelah tamat, harus dicarikan jalan keluarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Yayasan Widya Dharma Shanti juga menyiapkan jalan keluar melalui lembaga yang menangani sistem perkuliahan sambil magang ke luar negeri.
“Untuk dua case itu, mahasiwa dropout dan siswa yang tamat tapi tidak mengambil ijazah, kita berikan way out dengan kuliah sambil magang ke luar negeri dan itu tidak perlu biaya banyak karena kami sudah didukung oleh pemeringah dan lembaga keuangan partner kami,” jelasnya.
Disrupsi digital yang kian nyata dan terlihat dalam kehidupan sehari-hari akan diselaraskan melalui kurikulum yang adaptif dan relevan.
Untuk mencapai itu salah satunya dengan meningkatkan status lembaga ke tingkat lebih tinggi, dari sekolah tinggi menjadi Universitas.
Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti, Prof. Made Bandem, MA mengatakan, tahun ini diharapkan ITB STIKOM Bali kembali berubah menjadi Universitas STIKOM Bali (USB).
“Seluruh persyaratan sudah kita penuhi dan sudah kita ajukan ke Kemdikti, Sains dan Teknologi. Kami sekarang sedang menunggu kehadiran USB, mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami memperoleh peningkatan status,” kata Made Bandem.
Dengan transformasi itu, kata Made Bandem, program studi yang ada akan bertambah lebih banyak. Peluang penciptaan aplikasi teknologi robotik dan komputasi juga akan semakin terbuka.
Sementara, dalam Rakornas ini juga diikuti dengan pelepasan empat peserta Program Internasional Internship Thailand tahun 2026.
Keempat mahasiswa yakni, Ida Bagus Putu Surya Negara, I Putu Arya Suta Dharmaja, I Made Krisna Widiatmika, dan Made Ivan Prawira Hartadinata. (Way)
