KORANJURI.COM – Motor Contest, menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam Automotive Educative Zone (AEZ) 2023, yang diinisiasi Prodi PTO (Pendidikan Teknik Otomotif) Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPurworejo) bekerjasama dengan Himato (Himpunan Mahasiswa Teknik Otomotif).
Sebanyak 69 peserta bersaing dalam event bergengsi tahunan ini, Sabtu (17/06/2023), di kampus barat UMPurworejo yang mempertandingkan 6 kategori, yakni, Restorasi Fashion 4 dan 2 Tak, Sunmori Style, Fashion Lokal Plat AA, Mahasiswa, Thailook Style (Novice Pure & Baby Mothai), CB & GL Series Daily Use Style.
Aci Primartadi, M.Pd., selaku penanggungjawab kegiatan menyebut, dalam AEZ, selain Motor Contest, juga ada ada rangkaian kegiatan lainnya, yakni servis gratis dan Skill Contest yang diikuti SMK-SMK se Kedu. Kegiatan AEZ ini dimulai sejak Kamis (15/06/2023) hingga Sabtu (17/06/2023).
“Harapannya nanti dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan wadah dari para modifikator atau para pemilik kendaraan-kendaraan bermotor untuk mengikuti kontes-kontes kendaraan bermotor pada kategori-kategori yang disediakan,” ujar Aci, sambil menyebut ada tiga juri yang menjadi tim penilai dalam Motor Contest ini, yakni, Tito Monster dari Jatim, Wahyu Twins dari Jateng dan Duns Ototrend dari Jabar.
Salah satu juri, Duns Ototrend menjelaskan, dalam penilaian ini, setiap kelas mempunyai regulasi tersendiri. Dari 6 kategori yang ada, peserta paling banyak turun di tiga kategori, yakni Fashion Lokal Plat AA, Restorasi Fashion 4 dan 2 Tak serta Sunmori Style.
“Kalau Restorasi Fashion itu motor-motor lama yang didaur ulang atau dimodifikasi ulang, dalam arti diperbaharui yang mencakup antara body, rangka, arm dan shockbreaker itu balik ke standar. Cuman untuk kaki-kaki silahkan divariasi secantik mungkin, serapi mungkin,” jelas Duns.
Sunmori Style itu menurut Duns, sesuai temanya yakni motor yang dibuat riding di pagi hari. Jadi setidaknya ada coakan, sesetan body dan untuk finishing cat-nya rata-rata diharuskan di regulasi ototrend itu sendiri harus bunglon atau colour effect.
Untuk kelas mahasiswa, patokannya dilihat dari tingkat kerapihan dan detailnya motor terkonsep atau tidak. Dan sesuai kategorinya, yang mengikuti itu benar-benar mahasiswa dan bukan di luar mahasiswa.
“Kalau lokal plat, yang mencakup daerah plat itu sendiri. Daerah mana-mana boleh masuk di kelas lokal itu, asal masih diwilayah AA sendiri. Untuk bengkelnya bebas di mana aja yang penting si pemilik itu benar-benar dari daerah plat AA itu sendiri. Yang dinilai untuk lokal plat, aspek emua tingkat modifikasi kita nilai,” terang Duns.
Pada kelas Thailook itu sendiri, kebetulan kelas zonanya negara Thailand cuman di konsep secara Indonesia style aja. Kategori CB & GL Series Daily Use Style itu, motor-motor klasik yang difashion atau dimodif secantik mungkin, seindah mungkin, seklasiknya motor dulu dibikin fashionnya yang seindah dilihat hariannya seperti apa.
Duns menilai, Motor Contest di UMPurworejo ini keren, karena cuma ada 6 kelas tanpa ada the best. Karena setiap event di luar event ini biasanya kelasnya itu minim 8 sampai 12, dengan the best minimal 10 sampai 50.
“Tapi di sini keren, dalam arti peserta bisa tembus sampai 70 an. Tahun depan harapannya lebih diperbanyak kelasnya. Saya selaku perwakilan Jawa Barat bisa menarik anak Jawa Barat untuk ke sini lebih banyak,” pungkas Duns. (Jon)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS





