KORANJURI.COM – Pusat Kebudayaan Bali (PKB) yang saat ini tengah dibangun akan jadi pesaing The Esplanade Singapura, gedung teater yang disebut punya fasilitas paling lengkap di Asia Tenggara.
PKB berdiri di lahan seluas 325 hektar bekas lahan galian C di Gunaksa, Klungkung. Inisiator pembangunan Pusat Kebudayaan Bali itu adalah I Wayan Koster.
“Singapura bisa saja kalah dengan PKB. Beberapa fasilitas lengkap untuk penyelenggaraan seni dan budaya serta event konser berskala besar akan dibangun di sini,” kata Koster pada kampanye terbuka tahap pertama di Kecamatan Dawan, Klungkung Senin (7/10/2024).
Koster mengatakan, fasilitas pendukung yang ada seperti auditorium, berkapasitas 30 ribu orang. Selain itu dilengkapi dengan pelabuhan Marina dan Embung atau instalasi tangkapan air.
Pusat Kebudayaan Bali menjadi wadah bagi UMKM seni dan budaya dari Klungkung. Akan ada shop di dalamnya untuk memfasilitasi seniman dan budayawan.
Dikatakan, PKB juga akan jadi destinasi wisata utama di Bali untuk menyeimbangkan pariwisata Bali Tengah, Selatan, Utara dan Timur.
Proyek senilai Rp1,3 triliun itu diperkirakan akan menyerap 10 ribu tenaga kerja. Menurut Koster, ia akan memprioritaskan tenaga kerja yang berasal dari Klungkung.
“Nanti yang bekerja di sana wajib KTP Klungkung. Warga Klungkung harus jadi tuan di rumahnya,” kata Koster.
Namun, pasca Wayan Koster lengser dari jabatan gubernur periode 2018-2023, muncul isu megaproyek itu mangkrak dan tak diteruskan kembali.
“Sesungguhnya, pembangunan terhenti sejenak karena masa jabatan saya sebagai Gubernur Bali berakhir 5 September 2023,” ujarnya.
Saat itu, proses kerja sama dengan pihak ketiga yang akan membangun telah dilakukan bersama Pemprov Bali. Sehingga, dirinya optimis pembangunan akan dilanjutkan.
Kerja sama tersebut murni tanpa keterlibatan APBD Bali. Karena pihak ketiga yang akan membangun.
“Tidak mangkrak, kemarin hanya berhenti sejenak, karena tiang berhenti dari Gubernur Bali sejenak. Setelah kembali terpilih, ini jadi pembangunan pertama yang Koster-Giri lakukan,” kata Koster.
Hub Kebudayaan
Sementara, sineas tanah air Garin Nugroho sempat menyinggung tentang sebuah hub kebudayaan yang sampai saat ini belum ada yang menyamai The Esplanade Singapura.
Padahal, Indonesia punya kebudayaan beragam yang membutuhkan dukungan berstandar internasional.
Garin mengatakan, Film Samsara yang dibuatnya dan diproduksi oleh Ditjen Kebudayaan justru diputar perdana di The Esplanade, Singapura.
“Yang perlu disuarakan juga, kenapa negara sebesar Indonesia tidak punya gedung teater setara dengan The Esplanade Singapura,” kata Garin di Peninsula Island, Nusa Dua saat hadir di acara Indonesia Bertutur bebesla waktu lalu.
“Masa Bali pulau internasional kok engga punya gedung sekelas The Esplanade, tolong itu bisa ditanyain ya,” ujarnya.
Menurutnya, adanya hub untuk pemuliaan kebudayaan akan mempertemukan banyak gagasan.
“Kan bisa untuk membangun dukungan funding, karena karya-karya sebesar ini kan membutuhkan pendanaan yang besar,” kata Garin.
Direktur Perfilman, Musik dan Media Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek mengaku, karya kebudayaan Indonesia sudah cukup siap tampil di ranah dunia.
“Kita harus punya tempat yang sangat layak, baik akustik, kita ini kan belum punya,” kata Ahmad Mahendra. (Way)
