KORANJURI.COM – Ketua TP PKK Provinsi Bali Putri Suastini Koster menggelar sosialisasi di empat desa di dua Kecamatan di Kabupaten Jembrana. Dalam kegiatan itu, Putri Koster bersama tim melakukan sosialisasi stunting dan bahaya rabies.
Keempat Desa tersebut yakni berlokasi di Balai Pemaksan Palasari, Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, kedua di Aula Kantor Desa Nusasari, Kecamatan Melaya. Ketiga di Wantilan Pura Puseh, Desa Adat Baluk, Kecamatan Negara, dan Lokasi Keempat di Wantilan Pura Dang Kahyangan, Pura Jati Pengambengan, Kecamatan Negara.
Menurutnya, aksi Sosial Menyapa dan Berbagi ini dirancang menjadi kegiatan yang lebih bermanfaat dan menyentuh kepentingan masyarakat paling bawah. Terutama, yang sedang menghadapi permasalahan kebutuhan pokok maupun dalam situasi kekurangan asupan gizi yang baik.
“PKK dalam pergerakannya di tengah masyarakat memiliki dua kegiatan yaitu aksi sosial dan sosialisasi,” kata Putri Koster di Jembrana, Jumat (4/3/2023).
Putri Koster yang akrab disapa Bunda Putri juga menegaskan komitmennya dalam mendorong penurunan angka stunting. Meskipun di Bali jumlah penderita stunting tidak begitu banyak, namun tetap harus mendapat perhatian agar angka stunting di Daerah Bali dapat segera dituntaskan.
“Stunting mesti mendapat perhatian serius karena mengancam keberlangsungan generasi penerus bangsa,” jelasnya.
Ditambahkan, stunting dapat diartikan sebagai gagal tumbuh kembang. Kondisi itu memicu ketidakseimbangan antara tinggi dan berat badan anak, tak sesuai dengan usianya. Jika tidak diatasi maka dapat mempengaruhi perkembangan otak anak.
Oleh karena itu, pihaknya meminta agar kader Posyandu proaktif terhadap potensi stunting dan segera melakukan koordinasi untuk pencegahan.
Sosialisasi Bahaya Rabies
Di sisi lain, Putri Koster juga mengingatkan masyarakat akan bahaya rabies yang disebabkan oleh gigitan binatang berdarah panas seperti, anjing, kucing dan kera. Masyarakat diminta tidak meremehkan jika ada yang tergigit binatang tersebut.
“Di Jembrana sendiri saya dengar sudah ada yang meninggal karena rabies. Saya minta ini jadi perhatian serius bagi Kader PKK dan Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten, dalam menyikapi jika tergigit hewan penular rabies,” ujarnya.
Dalam sosialisasi terkait bahaya rabies TP PKK Bali menggandeng dua narasumber yakni, Kepala Dinas Kesehatan Bali dan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Nyoman Gede Anom menyampaikan, jika ada masyarakat yang terkena gigitan anjing, pertolongan pertama yang dilakukan adalah dengan mencuci luka gigitan di air mengalir selama 10-15 menit. Setelah itu membawa ke Puskesmas terdekat.
“Rabies ini gejala awalnya adalah demam, tapi gejala rabies yg mematikan muncul 2 bulan kemudian. Saya sarankan hati-hati, sekecil apapun gigitannya segera periksakan untuk penanganan secepatnya,” kata Nyoman Gede Anom.
Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada menambahkan, penyakit rabies rabies jika menular ke manusia dan tidak ditangani dengan baik bisa membahayakan hingga kehilangan nyawa.
Dalam hal ini, pemerintah membentuk tim siaga rabies hingga tingkat desa guna mempercepat vaksin serta mengedukasi masyarakat.
“Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika digigit binatang tersebut untuk mendapatkan suntikan vaksin anti rabies,” kata Sunada. (Way)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS





