KORANJURI.COM – Memperingati Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia, Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan Kabupaten Purworejo menggelar Aksi Pungut Sampah. Kegiatan yang berlangsung Sabtu (10/06/2023) di Pantai Jatimalang, Kecamatan Purwodadi ini, diikuti oleh sekitar 200 peserta.
Para peserta ini, berasal dari Dinporapar, Dinas KUKMP, Kecamatan Purwodadi, Pos AL Jatimalang, Polsek Purwodadi, Koramil Purwodadi, Kades Jatimalang, anggota Saka Kalpataru, SMAN 9 Purworejo, SMKN 4 Purworejo, Pokdarwis, nelayan Jatimalang serta Bank Sampah Induk Jatimalang. Kegiatan aksi pungut sampah ini juga dihadiri Asisten 2 Sekda, Drs Sutrisno MSi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan Kabupaten Purworejo, Wiyoto Harjono, S.T., yang menginisiasi kegiatan ini menyebut, aksi pungut sampah merupakan aksi nyata pungut sampah plastik di sepanjang pantai Jatimalang kurang lebih 2 km.
“Yang diambil sampah plastik. Hal ini selaras dengan tema peringatan HLH sedunia tahun 2023 yang mengusung kampanye ‘Solusi untuk Polusi Plastik’. Jadi polusi plastik merupakan ancaman nyata yang berdampak pada setiap komunitas di seluruh dunia,” ujar Wiyoto, sambil menjelaskan, dasar peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia, ketika majelis umum PBB tahun 1972 menetapkan 5 Juni sebagai hari lingkungan hidup.
Diproyeksikan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), ungkap Wiyoto, pada tahun 2040 akan terdapat 29 juta ton plastik masuk ke ekosistem perairan. Melalui HLH sedunia tahun 2023, diharapkan semua pihak bersama-sama, menemukan memperjuangkan solusi untuk polusi plastik ini.
Untuk dipahami, kata Wiyoto, bahwa sampah plastik yang ada di lautan sebagian besar dihasilkan dari sumber polusi darat yang membutuhkan penanganan. Sehingga setiap tahun sampah plastik di lautan makin banyak. Targetnya, sampah bisa terkurangi sebesar-besarnya 30 persen di tahun 2025.
“Dari aksi pungut sampah ini, Terkumpul sampah plastik 307, 06 kg. Nantinya sampah ini dibawa ke TPA untuk diolah ke mesin inverator,” jelas Wiyoto di sela kegiatan.
Adanya aksi pungut sampah ini, menurut Wiyoto, juga sebagai bentuk edukasi pada masyarakat untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, karena sampah ini 300 tahun baru terurai oleh alam.
Melalui gerakan moral ini, Wiyoto mengajak semua orang untuk mengurangi penggunaan sampah plastik semaksimal mungkin. Jika dibuang, buanglah pada tempat yang semestinya karena sampah plastik susah terurai. Kalau ini sudah menjadi sebuah budaya, maka nantinya akan mudah dalam mengelola persampahan.
Karena ini sifatnya edukasi, kata Wiyoto, bahwa peringatan HLH ini tidak selesai hanya sebatas mengambil sampah. Tapi ini sebagai edukasi pada masyarakat khususnya generasi muda, bahwa sampah plastik ini sesuatu yang sangat berbahaya kalau tidak diatasi dari sekarang.
Dalam kegiatan aksi pungut sampah ini, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan Kabupaten Purworejo juga mensosialisasikan program ‘Open Resik’, kepanjangan dari Optimalisasi Pengelolaan Restribusi Sampah Intensif Kabupaten yang merupakan digitalisasi pengelolaan sampah berbasis parsial, yakni strategi mengawasi ketidakseimbangan realisasi restribusi dibandingkan pelayanan persampahan di kabupaten Purworejo.
“Selama ini setiap orang yang membuang sampah sampai ke TPA melalui TPS atau manapun harusnya ada restribusi. Namun saat ini belum semuanya,” pungkas Wiyoto. (Jon)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS
