KORANJURI.COM – SMPN 17 Purworejo menggelar Muhadhoroh Akbar dalam rangka P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dengan tema Bangunlah Jiwa Raganya. Dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari, dari Selasa (28/03/2023) hingga Rabu (29/03/2023) ini, diikuti oleh semua siswa kelas VII dari 7 rombel.
Dibuka oleh Kepala SMPN 17 Purworejo, Budi Hartono, S.Pd., M.M., dalam Muhadhoroh Akbar yang berlangsung di aula setempat itu, setiap kelas menampilkan kegiatan atau event dengan tema kegiatan berbeda-beda, yang penentuannya dilakukan dengan undian. Dalam hal ini, siswa diminta untuk mengelola sebuah kegiatan atau acara, termasuk mengisi kegiatan itu sendiri.
Seperti penampilan salah satu kelas, yang menampilkan kegiatan Peringatan Isra’Mi’raj. Dalam kegiatan ini, siswa ada yang berperan sebagai pembawa acara/MC, tokoh masyarakat, saritilawah, tausiyah, pembaca doa maupun pengisi hiburan.
Menurut Budi, ada 7 tema kegiatan yang diundi, yakni, Maulid Nabi Muhammad SAW, Isro’Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Tahun Baru Islam, Halal Bihalal, Walimatul Khitan dan tasyakuran peringatan HUT RI. Pengundian juga dilakukan dalam urutan penampilan.
“Muhadhoroh Akbar ini bertujuan untuk melatih ketrampilan siswa di muka umum, yang mana hubungannya dengan imam dan taqwa. Anak diharapkan memiliki keterampilan berbicara di muka umum dengan menjadi MC, penceramah, saritilawah, qori ataupun pembaca doa. Jadi kita membentuk karakter pada anak dan diutamakan anak yang muslim, karena mayoritas siswa disini itu muslim,” ujar Budi, Selasa (28/03/2023), di sela kegiatan.
Dari masing-masing kelas yang diwajibkan untuk tampil ini, kata Budi, dinilai oleh tiga Dewan Juri, dimana para juri ini bukan dari wali kelas dan bersifat netral. Dari hasil pengamatan dewan juri, masing-masing cabang lomba akan diambil juara 1 atau yang terbaik. Sedangkan untuk juara umum, diambil dari kelas yang mengumpulkan banyak juara.

Budi menyebut, penilaian selama Muhadhoroh Akbar ini meliputi MC, saritilawah, tausiyah, prakata panitia, sambutan tokoh masyarakat, doa serta hiburan. Harapannya nanti setelah pelaksanaan projek ini selesai, ketika anak terjun di masyarakat, mereka bisa dilibatkan menjadi panitia ketika ada kegiatan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di lingkungannya masing-masing.
“Dari pelaksanaan Projek P5 ini, nantinya bisa menjadi budaya atau kebiasaan, sehingga nanti kalau anak sudah biasa terlatih seperti itu, misalkan sekolah punya kegiatan PHBI, untuk kepanitiaan atau pengisi acara kita sudah langsung mengambil dari anak-anak yang juara 1 atau terbaik dalam Projek P5 ini,” terang Budi.
Dan selama proses projek P5 berlangsung, ada penilaian yang dilakukan oleh semua guru, dimana penilaiannya meliputi 6 dimensi, yakni, Berimam dan Beriman kepada Tuhan YME serta Berakhlak Mulia, Mandiri, Gotong Royong, Kebhinekaan Global, Bernalar Kritis dan Kreatif.
Penilaian ini menurut Budi, merupakan bagian dari pembelajaran. Sehingga semua guru kelas 7 harus menilai kegiatan projek yang ada, dimana nantinya penilaian ini akan dituangkan dalam nilai raport projek.
“Muhadhoroh Akbar ini merupakan puncak dari kegiatan projek P5 dengan tema Bangunlah Jiwa Raganya. Projek ini merupakan projek ke 3 dalam satu tahun ajaran, yang mana dua projek sebelumnya telah dilaksanakan di semester 1 dengan tema Demokrasi dan yang kedua Hidup Berkelanjutan,” jelas Budi.
Disampaikan oleh Budi, dalam projek P5 ini, pihaknya tidak hanya melibatkan siswa yang muslim saja, tapi yang non muslim juga difasilitasi. Selain Islam, di SMPN 17 Purworejo juga memiliki siswa yang beragama Budha (1), Kristen (1) dan Katolik (2).
“Di sekolah kami punya guru non muslim definitif muda, sehingga mereka bisa mendampingi dari anak-anak yang non muslim, kegiatan selama 3 minggu sebagai fasilitator,” ungkap Budi.
Salah satu fasilitator untuk siswa beragama Katolik, Etna Wijayanti, M.Pd.K., menyebut, meski tema projek P5 sama, namun untuk tema kegiatan siswa Katolik berbeda.
Dalam projek P5 ini, kata Etna, bertujuan membangun anak menuju umat Kristiani. Anak dipersiapkan kedepannya menjadi anak yang baik, yang dimulai sejak dini di kelas 7. Jadi biar anak mengerti tujuan pelajaran agama itu bagaimana, sehingga mengerti makna agama yang diikuti. Sehingga dia bisa menjadi umat Kristiani yang betul dan benar di hadapan Tuhan.
“Salah satu kegiatan di puncak P5 hari ini, siswa memberikan/membacakan doa kepada temannya yang disebut dengan Doa Syafaat. Kita juga berikan penjelasan sedikit tentang firman Tuhan serta isi Alkitab. Selanjutnya mereka akan ke gereja untuk memvisualkan apa yang dia ketahui,” pungkas Etna. (Jon)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS





