Misteri Bunut Bolong, Pohon Suci nan Unik di Jembrana Konon Dikutuk Tetap Berlobang

oleh
Pohon Bunut bolong dengan keunikan lobang menganga di tengah-tengah pohon yang membelah jalan raya - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pohon sejenis beringin raksasa yang disebut Bunut ini tumbuh di tengah jalan dengan batang tengah bolong. Sehingga, kendaraan pun bisa melewati lobang pohon yang menganga.

Lokasinya berada sekitar 49 km ke arah timur dari pusat kota Negara, Jembrana, Bali. Atau, sekitar 86 km meter dari pusat kota Denpasar. Tepatnya, di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana

Karena keunikan dan sarat akan cerita yang berkembang, keberadaan Bunut Bolong digunakan sebagai obyek wisata, termasuk wisata religi.

Di sebelah pohon raksasa itu terdapat tempat persembahyangan yang bernama Pura Pujangga Sakti. Konon, Pura tua itu dibangun untuk menghormati seorang Empu yang bernama Dhang Hyang Sidhi Mantra.

Ni Ketut Sulastri, warga Manggisari yang tahu seluk beluk Bunut Bolong itu mengisahkan, peziarah dari berbagai wilayah yang berada di Bali kerap menyinggahi Bunut Bolong untuk sekedar mebanten sembari memanjatkan doa.

“Biasanya kalau ada warga yang melewati Bunut Bolong pasti mampir ke Pura untuk menghaturkan canang. Hal itu dilakukan agar perjalanan mereka selamat. Yang paling sering singgah adalah para supir truk yang lebih banyak menghabiskan waktunya di jalan,” jelas Ketut Sulastri.

Menurut kepercayaan warga setempat, jika akan melewati tengah ‘terowongan’ pohon besar itu harus memberikan sinyal dengan membunyikan klakson. Atau kalau tidak, harus berhenti sejenak sebelum melewati terowongan.

Ni Ketut Sulastri mengatakan, tanda klakson yang dibunyikan atau berhenti sejenak, bertujuan untuk menjaga keamanan diri sendiri serta pengguna jalan yang lain.

“Membunyikan bel berarti kita permisi mau lewat, atau berhenti juga berarti permisi untuk meminta ijin terlebih dulu sebelum lewat,” ungkap Ni Ketut Sulastri.

Banyak Versi Cerita Bunut Bolong

Pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu berlobang setinggi mencapai 10 meter. Sedangkan lebarnya hampir 6 meter. Dengan lobang yang menganga sebegitu lebar dan tinggi, bus pun bisa melewatinya.

Pura Pujangga Sakti – foto: Koranjuri.com

Cabang pohon dengan ranting penuh dedaunan menjadi penaung Pura Pujangga Sakti, yang konon, terkait erat dengan keberadaan Bunut Bolong.

“Ceritanya, dari awal Bunut ini tumbuh dan hidup sampai sekarang, tidak ada satupun warga yang berani memangkas dahan dan ranting-rantingnya. Kalau pun ada, semua dilakukan dengan upacara untuk meminta ijin kepada Sanghyang yang ada di Bunut itu,” kata Sulastri.

Tidak diketahui secara pasti, kenapa batang pohon Bunut punya lobang menganga sampai sekarang. Banyak versi cerita yang berkembang di masyarakat.

“Yang saya tahu, jaman dulu Desa Manggisari diserang wabah yang membuat penduduknya mengalami sakit hingga meninggal dunia,” cerita Sulastri.

Ada petunjuk gaib menyebutkan, agar lokasi pemukiman penduduk yang sebelumnya berada di sebelah utara Bunut Bolong dipindahkan ke sisi selatan pohon tersebut.

Selanjutnya, secara niskala atau gaib disebutkan wilayah utara pohon Bunut akan digunakan sebagai tempat persinggahan bathara-bathari yang ada di seluruh Bali.

Karena tidak ingin ada korban lagi, warga pun patuh dan memindahkan desa ke sebelah selatan pohon Bunut. Secara perlahan, wabah penyakit yang menyerang penduduk desa berangsur hilang.

“Oleh karena itu, sampai saat ini, warga sangat percaya akan nilai magis dan religius dari pohon Bunut ini,” tutur Sulastri.

Selain itu, sudah sejak awal di sekitar pohon Bunut itu berdiri Pura Pujangga Sakti. Menurut Sulastri, Pura Pujangga Sakti berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada seorang Empu yang bernama Dhang Hyang Sidhi Mantra yang pernah singgah untuk beristirahat di Bunut Bolong.

Tokoh sakti pada jaman dulu itu, dikatakan Sulastri, memiliki ucapan yang sakti. Bahkan, sepengetahuan Sulastri, lobang Bunut itu dulunya tidak sebesar sekarang. Lobang yang membesar itu dipercaya karena ucapan dari sang Bagawan sakti.

“Waktu itu Dhang Hyang Sidhi Mantra ingin beristirahat di bawah pohon, tapi karena tidak ada pohon yang dijadikan tempat berteduh, beliau bersabda pohon Bunut itu berlobang besar. Sampai akhirnya lobang itu ada sampai sekarang,” jelasnya demikian. (Way)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS