KORANJURI.COM – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberikan apresiasi atas terbitnya buku ‘Kebumen: Kota yang Kehilangan Pahlawannya’ karya Letkol Czi Ardianta Purwandhana, S.Hub.Int., M.Han.
Secara khusus, Mensesneg meminta tanda tangan asli dari si penulis yang saat ini menjabat sebagai Dandim 0709/Kebumen, sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dalam merawat ingatan kolektif bangsa.
Hal itu berlangsung dalam sebuah acara penghormatan terhadap karya sejarah lokal yang memiliki dampak nasional di Swasana Dharmagati Grand Ballroom, Jakarta Timur, Sabtu (14/06/2025).
Buku tersebut memuat catatan penting tentang kelahiran Prof. Sumitro Djojohadikusumo, salah satu ekonom dan negarawan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern, yang ternyata dilahirkan di Kebumen.
Fakta ini menjadi pengingat kuat bahwa kota kecil di pesisir selatan Jawa itu memiliki kontribusi besar dalam melahirkan tokoh-tokoh nasional yang gagasannya membentuk fondasi ekonomi dan kebijakan Indonesia.
Karya ini, menurut Mensesneg, luar biasa. Bukan hanya menyampaikan sejarah lokal, tapi juga membongkar kembali memori nasional yang terabaikan.
“Prof. Sumitro adalah nama besar yang lahir dari Kebumen, dan ini harus menjadi kebanggaan kita semua. Saya meminta langsung tanda tangan otentik dari penulisnya sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas karya yang bernilai sejarah tinggi,” ujar Mensesneg Prasetyo Hadi dalam sambutannya.
Letkol Czi Ardianta, dalam sesi bincang santai seusai acara, menjelaskan bahwa buku ini adalah upaya untuk menyuarakan kembali pentingnya sejarah daerah dalam rangka membangun kesadaran identitas bangsa.
Karya ini tidak hanya memuat narasi sejarah, tetapi juga dibangun dengan riset lapangan, telaah arsip, dan wawancara mendalam yang menjadikannya sumber informasi sejarah yang kredibel dan inspiratif.
Momen simbolik penandatanganan buku di hadapan Menteri menjadi penegasan bahwa sejarah lokal yang ditulis dengan jujur dan ilmiah akan mendapat tempat yang layak di tingkat nasional.
Acara ditutup dengan penyerahan buku kepada Menteri dan diskusi ringan seputar bagaimana sejarah daerah bisa menjadi energi positif untuk membangun Indonesia yang berakar kuat pada nilai-nilai lokal namun berpandangan global. (Jon)
