Masjid Assyuhada yang berdiri di tengah kampung merupakan masjid tertua kedua yang ada di Bali, setelah masjid pertama tertua yang berdiri di Gelgel, Kabupaten Klungkung. Beberapa bagian pada masjid itu dibiarkan asli, terutama pada lantai dan tiang yang terbuat dari batu marmer. Hanya saja, perwajahannya, menurut M. Mansyur, sudah ada perubahan. Ukurannya pun juga diperluas sekitar 4 meter.
Hingga sekarang, masjid itu masih memiliki sumur, yang dulu, airnya digunakan umat untuk wudlu sebelum melakukan sholat. Sumur itu merupakan sumber air tua yang masih bertahan sampai sekarang. M. Manysur mengatakan, warga sekitar dan para peziarah dari tempat lain meyakini, air dalam sumur itu memiliki khasiat.
“Karena itu, umat yang datang kesini biasanya menyempatkan mengambil air sumur untuk dibawa pulang,” jelas M. Mansyur.
Keyakinan warga tentang air sumur berkhasiat itu muncul dikarenakan air yang diambil dari sumur tersebut rasanya tawar. Padahal, pulau Serangan adalah pulau kecil yang dikelilingi laut sehingga mustahil kalau airnya tidak tercampur air laut.
Di tempat lain, dikatakan M. Mansyur, tidak ada warga yang membangun sumur. Jadi, sumur itu merupakan satu-satunya yang ada di Pulau Serangan.

“Airnya juga terasa dingin dan segar,” ujar pria sepuh yang juga merangkap sebagai juru kunci makam ini.
Hanya saja, sekarang sumur itu tidak difungsikan sebagai tempat mengambil air untuk bersuci diri. Warga sepakat menutup sumur itu dengan menggunakan kaca tebal karena posisinya berada di dalam Masjid setelah mengalami perluasan.
Meski begitu, air di dalam sumur masih diambil dengan menggunakan selang. M. Mansyur mengatakan, cara itu sebagai alternatif jika air ledeng mati mendadak.
“Pada hari-hari tertentu banyak orang dari berbagai daerah dan pulau datang kemari. Biasanya mereka minta air dari sumur untuk dibawa pulang,” terang M. Mansyur.
Ditambahkan, masjid dan sumur itu umurnya hampir sama dengan keberadaan Kampung Bugis yang didirikan oleh Syekh Haji Mu’min.
Peninggalan lain yang masih ada hingga sekarang berupa makam tua dengan ukuran nisan yang cukup besar. Areal makam hanya berjarak beberapa meter dari rumah terakhir warga, sehingga kesannya menyatu dengan pemukiman.
Makam yang ukurannya paling besar diebutkan M. Mansyur, merupakan makam pendiri Kampung Bugis, yakni, Syekh Haji Mu’min. Sementara, di beberapa bagian terdapat makam-makam lain yang merupakan warga kampung tersebut.
Makam Syekh Haji Mu’min diyakini berusia ratusan tahun. Hal itu terlihat dari jenis batu nisan yang terbuat dari batu hitam. Sedangkan makam lainnya bentuk nisannya agak sedikit berbeda. Bahannya juga terbuat dari batu namun ukurannya tidak setinggi makam Syekh Haji Mu’min. Dipercaya makam tua itu, tingginya setiap tahun bertambah.
“Syekh Haji Mu’min merambah pulau Bali sekitar abad 17. Dan awalnya tidak langsung menempati kampung Serangan ini, tapi berada di kerajaan Pemecutan yang waktu itu masih namanya masih Kerajaan Badung. Tanah ini sebenarnya pemberian Raja Badung kala itu,” terang Haji Mohammad Mansyur.
Tanah Hadiah Raja Denpasar…





