KORANJURI.COM – Dalam dua tahun terakhir, pemerintah menyiapkan landasan transisi jaringan menuju 5G.
Pengamat Telekomunikasi dari Indotelko Forum Doni Ismanto Darwin berharap pelaksanaan KTT G20 di Bali, jadi momentum penerapan jaringan 5G secara massal di Indonesia.
“Jaringan 5G bakal memberikan banyak manfaat bagi masyarakat,” kata Doni, Minggu, 6 November 2022.
Untuk event puncak Presidensi yakni KTT G20 di Bali, operator telekomunikasi menyambutnya dengan meningkatkan pita koneksi.
Seperti operator Telkomsel, menambah 24 Base Transceiver Station (BTS) jaringan 5G pada Agustus 2022 untuk memperlancar komunikasi para delegasi.
Perusahaan BUMN itu menambah 46 BTS 4G/LTE dan mengoperasikan lima Compact Mobile BTS (COMBAT) guna mengantisipasi potensi lonjakan lalu lintas komunikasi di sejumlah area konferensi.
Sedangkan perusahaan swasta XL Axiata mengoperasikan layanan 5G di 17 titik di Bali untuk mendukung penyelenggaraan KTT G20.
Isu transformasi digital ini juga menjadi salah satu isu utama yang dibawa Pemerintah Indonesia pada Presidensi G20 tahun 2022.
Sebagai pengembangan teknologi 4G, jaringan 5G memang memiliki lebih banyak keunggulan dibanding pendahulunya. Kecepatan ideal 5G dapat mencapai 10 Gbps, dengan jeda waktu pengiriman data sekitar 4-5 milidetik.
“Sedangkan, 4G maksimal hanya bisa mencapai 100 Mbps,” kata Doni.
Latensi jaringan 5G pun sangat rendah, hampir nol. Sehingga sangat berguna untuk aplikasi yang memerlukan umpan balik realtime. Kualitas koneksi pun tak akan menurun meski banyak perangkat yang terhubung.
Dengan beragam keunggulan tersebut, lanjut Doni, jaringan 5G bakal membuat kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik.
“Karena teknologi 5G bisa diterapkan di luar komunikasi, seperti kesehatan dan transportasi serta sektor Internet of Things (IoT) lain,” ujarnya.
Mengutip riset Institut Teknologi Bandung, perkembangan jaringan 5G di Indonesia berpotensi memberikan kontribusi lebih dari Rp2.800 triliun atau setara 9,5 persen dari total PDB pada 2030.
Angka itu bahkan berpotensi melonjak menjadi 3.500 triliun atau setara 9,8 persen dari total PDB Indonesia pada 2035.
Jika jaringan 5G diterapkan secara agresif, riset yang dilakukan ITB memperkirakan potensi peningkatan investasi bisnis di Indonesia mencapai Rp591 triliun dan Rp719 triliun pada tahun 2030 dan 2035.
Laporan Global Suppliers Association (GSA) hingga akhir 2021, setidaknya ada 89 negara telah mengimplementasikan 5G. Untuk kawasan Asia, Tiongkok tercatat sebagai negara dengan koneksi 5G terbanyak. Tiongkok mencatat lebih dari 384 juta masyarakat menggunakan jaringan 5G. Disusul Jepang (25,15 juta), dan Korea Selatan (16,1 juta).
Sementara di Indonesia, sejak beroperasi komersial pada Mei 2021, jaringan 5G di Indonesia baru tersedia di sembilan wilayah yakni Jabodetabek, Solo, Medan, Balikpapan, Surabaya, Makassar, Bandung, Batam, dan Denpasar.
“Cakupan itu diproyeksikan terus bertambah di masa mendatang,” terang Doni.
Mengenai kecepatan rata-rata internet 5G, Indonesia kini mencatat setidaknya 64,3 Mbps untuk mengunduh dan 19,6 Mbps untuk rerata kecepatan unggah.
Data itu merujuk laporan OpenSignal dalam kurun 1 Februari hingga 1 Mei 2022. Angka itu masih kalah dibanding Korea Selatan yang menjadi nomor wahid di dunia yakni rata-rata 449,31 Mbps untuk mengunduh dan 36,1 Mbps untuk mengunggah. (Way)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS
