KORANJURI.COM – Bali memiliki seorang maestro ukir yang memiliki dedikasi tinggi. I Wayan Pugeg, seniman asal Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar ini bukan hanya tersohor di Bali saja tapi namanya telah mendunia.
Karya-karya Pugeg menyiratkan ketekunan dan pengabdian tinggi di bidang seni ukir. Hasil karya pahatannya bukan hanya bicara soal material kayu saja, tapi juga ukiran pada tulang yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Karena ketekunan dan kesabarannya melakukan teknik kriya yang sulit, karya Pugeg ada yang baru berhasil diselesaikan selama 25 tahun. Berikut tiga karya maestro ukir I Wayan Pugeg.
1. Ukiran Kayu Ebony

Ukiran berbahan kayu ebony atau kayu hitam ini berbentuk seperti sangkar burung. Di dalamnya terdapat beberapa ornamen yang sarat dengan kisah. Uniknya, kayu ebony itu diukir dalam bentuk gelondongan utuh tanpa ada patahan atau sambungan.
“Ukiran ini saya selesaikan selama 25 tahun, Saya mulai membuatnya tahun 1980 dan baru selesai tahun 2005 lalu. Ini memang cukup sulit karena saya harus melobangi kayu gelondongan tapi harus tetap utuh tersambung dengan ornamen yang ada di dalam sangkar. Karena itulah, pekerjaan ini menjadi sangat lama dikerjakan, karena tingkat kesulitannya,” jelas Wayan Pugeg.
Bahan baku kayu ebony didapatnya setelah berburu sampai ke pulau Borneo, Kalimantan pada tahun 1975.
2. Ukiran berbahan Tulang Rusuk Ikan Paus
Menurut I Wayan Pugeg, Ia mendapatkan tulang rusuk ikan paus pada tahun 1970. Ceritanya, pada masa-masa itu perairan Bali belum sepadat sekarang. Migrasi ikan-ikan besar yang langka seperti paus atau duyung kerap menyinggahi pesisir pulau dewata.
Pugeg mendengar seekor ikan paus terdampar di perairan Benoa dan mati. Kesempatan itu tidak disia-siakan Wayan Pugeg untuk membeli seruas tulang rusuk ikan nahas itu.
“Waktu itu saya meminta dua ruas. Tapi yang ada cuma satu dan akhirnya saya simpan,” ujarnya.
“Ukiran saya mengandung filosofi tentang hidup sehari-hari. Kalau saya dapat melihat sesuatu dan menarik untuk diukir, saya akan buat di kayu atau gading gajah. Tergantung ketersediaan bahan baku yang masih saya punya,” tambahnya.
3. Patung Bima

Patung raksasa yang menampilkan sosok Bima atau Werkudara setinggi 2 meter, sempat dijadikan ikon agar jadi penanda galerinya.
“Memang patung ini sengaja saya pasang di depan pintu biar orang tahu. Untuk waktu sekarang, rasanya sulit memperluas dan mempercantik galeri saya. Disamping saya sendiri sudah tua, anak-anak sudah enggan menekuni dunia ukir,” jelas Pugeg.
Di sisi lain, I Wayan Pugeg mengaku punya kebiasaan unik dengan melakukan ritual kecil sebelum mematung. Ritual itu berupa pemilihan hari baik. Kebiasaan itu sudah dilakukan sejak ia masih remaja. Biasanya ia memilih hari purnama atau bertepatan dengan bulan purnama penuh dalam memulai membuat karya. (Way)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS





