KORANJURI.COM – Memelihara hewan peliharaan harus disertai dengan kesadaran untuk merawat dan tidak melepasliarkan tanpa pemantauan.
Kondisi itu jadi salah satu penyebab masih maraknya penyakit rabies pada hewan peliharaan yang masuk kategori hewan penular rabies (HPR)
Dokter Hewan Ahli Madya di Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Provinsi Bali Ayu Safitri mengatakan, masyarakat Bali umumnya memelihara anjing tapi seperti diliarkan.
“Di Bali ini hewan seperti anjing sebenarnya bertuan tapi dibiarkan seperti diliarkan begitu saja jadi agak susah untuk divaksin,” kata Ayu di Denpasar, Selasa, 29 September 2026.
Kondisi seperti itu cukup menyulitkan petugas yang akan melakukan vaksinasi. Menurut Ayu, dengan dibiarkan bebas, hewan peliharaan seperti anjing menjadi sulit untuk dikendalikan.
Selain itu, di wilayah perbukitan yang masih ditumbuhi banyak pepohonan juga menyulitkan petugas melakukan vaksinasi. Anjing-anjing liar itu seringkali keluar pada malam hari.
“Kadang-kadang seperti itu susah untuk divaksin. Diambil untuk di-handling tidak bisa karena yang punya sendiri takut untuk memegangnya,” jelas Ayu Safitri.
Dengan target program bebas rabies di Provinsi Bali pada tahun 2028, Ayu berharap, masyarakat lebih memahami dan bertanggungjawab dengan hewan yang dipeliharanya, khususnya anjing maupun kucing.
drh. Siti Rofi’ah menambahkan, vaksinasi rabies dilakukan secara berulang minimal enam bulan dan maksimal satu tahun. Menjaga kesehatan hewan menurut Siti, menjadi bagian dari prinsip animal walfare.
Dalam pemeriksaan kesehatan hewan dan vaksinasi gratis, Karantina Bali menyiapkan 100 dosis vaksin anti rabies (VAR). Masyarakat yang ingin ikut melalukan vaksin terhadap hewan peliharaannya langsung datang ke lokasi.
“Kami siapkan seratus dosis untuk anjing dan kucing, ini tadi sudah ada sekitar tiga puluh dosis yang kita suntikkan baik untuk anjing dan kucing peliharaan,” kata Siti.
Kegiatan vaksinasi gratis itu digelar dalam rangka HUT Ke-49 Karantina dan Hari Anti Rabies Sedunia.
Dari kegiatan tersebut, Karantina Bali juga menyiapkan standar baku untuk menangani anabul yang dibawa oleh masyarakat, salah satunya sarana mobil berpendingin udara.
“Kita periksa suhu terlebih dulu, kalau terlalu tinggi kita dinginkan dan kita cek lagi sampai suhunya stabil dan siap diberikan vaksin,” kata Siti. (Way)
