Kreatif! Warga Borokulon Purworejo Raup Cuan Jutaan Rupiah Hanya dari Memilah Sampah

oleh
Warga Perum Pepabri RW V, Kelurahan Borokulon, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo saat membagi tabungan dari memilah sampah - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Membuang sampah begitu saja tampaknya sudah jadi cerita lama bagi warga Perum Pepabri RW V, Kelurahan Borokulon, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo. Di tangan mereka, limbah rumah tangga kini disulap menjadi sumber cuan yang menjanjikan lewat Bank Sampah “Anggrek Asri”.

Bukan sekadar jargon menjaga kebersihan, gerakan ini terbukti memberikan dampak ekonomi nyata. Pada acara Pembagian Tabungan Bank Sampah Tahun 2026 yang digelar Minggu (24/05/2026), para anggota tersenyum sumringah saat menerima hasil “investasi” sampah mereka selama satu tahun terakhir.

Perjalanan Bank Sampah Anggrek Asri tidak terjadi dalam semalam. Berdiri sejak tahun 2015 di bawah pendampingan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purworejo, bank sampah ini awalnya hanya digerakkan oleh 12 orang perintis.

Namun konsistensi membuahkan hasil. Ketua Bank Sampah Anggrek Asri, Choirunnisa, mengungkapkan bahwa per April 2026, jumlah anggota telah melonjak tajam.

“Alhamdulillah, sampai April 2026 jumlah anggota berkembang menjadi 119 orang. Ada yang rutin setor setiap bulan, ada juga yang setahun sekali. Namun semuanya tetap menjadi bagian dari gerakan bersama menjaga lingkungan,” ujar Choirunnisa, Selasa (26/05/2026).

Keaktifan warga ini berbuah manis. Sepanjang periode Mei 2025 hingga April 2026, Anggrek Asri sukses membukukan pendapatan total sebesar Rp 7.048.000,-.

Dari berbagai jenis limbah yang disetor, kardus menjadi komoditas paling mendominasi dengan total berat mencapai 852 kilogram dalam setahun. Selain kardus, warga juga menyetor plastik dan botol bekas, besi dan aluminium, doplek serta minyak goreng bekas (jelantah)

Sistem pengumpulannya pun sudah teratur. Setiap hari Minggu di pekan keempat setiap bulan, warga akan membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah. Pengurus kemudian merekap hasil tabungan berdasarkan volume sampah dan harga pasar dari pengepul.

Efeknya? Tabungan warga pun melejit. Pada periode ini, bu Reni dari RT 4 sukses membawa pulang tabungan tertinggi sebesar Rp 657.000,-, disusul oleh Ibu Han dari RT 3 yang mengantongi Rp 417.000,-.

Manfaat finansial ini dirasakan langsung oleh Yani, salah satu anggota aktif Anggrek Asri. Menurutnya, memilah sampah kini bukan lagi beban, melainkan sebuah keuntungan.

“Alhamdulillah, dari sampah bisa menjadi rupiah. Hasil tabungan bisa digunakan untuk membayar PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dan juga untuk healing tanpa membebani keuangan rumah tangga,” tutur Yani dengan gembira.

Kisah dari Borokulon ini menjadi bukti nyata bahwa peduli lingkungan tidak harus selalu merugi. Lewat langkah sederhana memilah sampah dari dapur rumah, warga Purworejo berhasil membuktikan bahwa kebersihan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi bisa berjalan beriringan. (Jon)