KORANJURI.COM – Penerapan digitalisasi di Desa Wisata Penglipuran meningkat drastis hingga 40 persen sejak diberlakukan. Smart tourism memberikan kemudahan, efisiensi dan imersif kepada wisatawan yang berkunjung.
Dari awalnya hanya membuka barcode digital QRIS di loket, kini desa wisata di Kabupaten Bangli itu menambah sistem pembayaran secara non tunai. Terutama untuk mengakomodir wisatawan mancanegara.
Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran I Wayan Sumiarsa mengatakan, segmen pasar di desa terbersih di dunia itu 80 persen didominasi wisatawan domestik.
“Semua sudah digital termasuk administrasi di kantor pengelola juga dilakukan secara digital, pembayaran insentif pun harus cashless,” kata Sumiarsa di Denpasar, Senin, 22 Juni 2026.
Untuk mencapai destinasi smart tourism yang memberikan jaminan kepada pengunjung, pengelola juga ter-cover asuransi jika terjadi kecelakaan.
“Kecelakaan bisa saja terjadi seperti terpeleset atau digigit anjing, itu sudah masuk dalam asuransi dari tiket masuk,” kata Sumiarsa.
Kepala Unit Kehumasan Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Bali I Gede Panca Sutresna menambahkan, Bank Indonesia mendorong perluasan pembayaran cashless untuk semua sektor usaha.
Tak terkecuali, destinasi wisata, baik yang sudah mapan pengelolaannya maupun destinasi wisata baru. Menurutnya, banyak benefit yang didapat dari pembayaran non tunai.
Terutama, untuk menekan antrian di pintu masuk destinasi hingga mempermudah pembayaran tanpa harus menyiapkan uang kembali.
“Pembayarannya jauh lebih mudah dan aplikasi non tunai seperti QRIS sangat membantu UMKM di sekitar destinasi wisata,” kata Gede Panca.
Sustainable dan Regeneratif
Desa Penglipuran bersiap menggelar Penglipuran Village Festival di bulan Juli 2026 nanti. Event tersebut telah berhasil menggerakkan ekonomi lokal dengan keterlibatan warga sekitar desa adat itu.
Wayan Sumiarsa mengatakan, agenda tahunan itu bukan hanya soal eksplorasi tradisi dan budaya lokal yang ditampilkan dalam pertunjukan.
Edukasi tentang wisata regeneratif akan disajikan dalam workshop tentang lingkungan. Sumi mengatakan, wisatawan diajak untuk memberikan manfaat, bukan saja untuk lingkungan yang berkelanjutan. Tapi juga terlibat dalam gerakan pemulihan.
“Di akhir kegiatan yang digelar selama tiga hari kita sajikan yoga tertawa menjadi bagian dalam health tourism,” kata Sumiarsa.
“Ada empat hal yang perlu kita dorong yakni, something to learn, something to do, something to buy dan something to see,” tambahnya. (Way)
