Kampung Unik di Jembrana, Bali ini Punya Bahasa Sendiri

oleh
Penunjuk di Kampung Loloan Timur - foto: Koranjuri.com

Selain memiliki keunikan bahasa ibu yang tidak dimiliki di wilayah lain, Kampung Loloan juga terkenal dengan rumah panggungnya. Daud mengatakan, meski saat ini keberadaan rumah panggung mulai berubah, namun kisah yang menceritakan rumah berkaki itu masih ada sampai sekarang. Bahkan, meski mengalami perubahan, wujud rumah sekarang juga tidak jauh beda dengan rumah panggung.

Berdasarkan catatan sejarah yang disimpan Muhamad Daud, pada tahun 1697 pernah terjadi banjir besar. Air Sungai Ijo Gading meluap. Banyak rumah penduduk yang hanyut. Hal demikian membuat penduduk berpikir untuk mengatasi ancaman bahaya banjir. Mengingat lokasi kampung tersebut berada tepat di pinggir sungai yang arusnya cukup deras.

“Sejak saat itu, penduduk membuat rumah panggung untuk mengurangi risiko hanyut. Sampai tahun 1700-an, rumah panggung mulai bermunculan di wilayah Loloan, baik di Loloan Barat maupun di Loloan Timur,” terangnya demikian.

Namun, seiring perjalanan waktu, rumah panggung itu mulai berubah secara fisik. Rumah panggung yang jumlahnya tinggal sedikit dan bentuknya reot dan kusam kini sudah tergeser oleh munculnya bangunan megah dan bertingkat.

“Bangunan yang pernah menjadi ikon masyarakat Loloan itu kini kurang mendapat perhatian untuk dijaga kelestariannya.

Banyak rumah panggung yang telah berubah bentuk bahkan lenyap dari tempatnya semula. Pelan dan pasti situs bangunan tradisional berupa rumah panggung yang semula dipelihara sebagai aset budaya kebanggaan masa lalu, kini mulai redup dikikis peradaban baru,” ujar Daud demikian.

Ia mengatakan, memang sulit untuk mencari siapa yang harus disalahkan dalam perubahan ini. Namun ia menengarai, pelunturan tradisi budaya ini terjadi sejak lekukan-lekukan sungai Ijo gading diluruskan. Keganasan sungai Ijo gading pada tiap musim penghujan yang selalu membawa bencana banjir di sepanjang bantaran sungai dari hulu sampai ke hilir, sejak diluruskan tidak pernah terjadi lagi di kawasan ini.

“Kalau dulu rumah panggung dibangun karena warga merasa terancam oleh banjir. Tapi begitu tidak ada ancaman banjir lagi, masyarakat penghuni rumah panggung satu per satu mulai meninggalkan ciri khas arsitekturnya yang antibanjir itu,” terang Daud.

Padahal, menurut Muhamad Daud, jika lekukan sungai itu tetap dipertahankan sampai sekarang, dermaga Teluk Bunter pasti tetap akan disinggahi kapal-kapal dari wilayah lain.

“Teluk Bunter di lekukan sungai itu seperti telah berakhir riwayatnya sejak terjadi pelurusan sungai Ijo gading. Dahulu teluk itu ramai dilabuhi perahu penisi pelaut Bugis. Saat itu tersambunglah penghubung komunitas serumpun antarlintas Nusantara. Jalinan yang telah memperkokoh kultur masyarakat itu kini sulit untuk direkatkan kembali dengan tidak berfungsinya Teluk Bunter seperti dulu,” jelasnya.

Tapi anggapan yang paling ironis dari hilangnya ciri khas rumah panggung di Kampung Loloan adalah, dijualnya harta cagar budaya kepada kolektor bangunan antik. Hingga saat ini, memang banyak terlihat warga menjual perabotan rumah panggung karena dianggap sudah tidak sesuai dengan kondisi jaman lagi.

“Warga masyarakat yang kurang beruntung dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, ada juga yang mengambil jalan pintas yaitu menjual seluruh bangunan rumah panggung kepada kolektor bangunan antik,” jelas Daud demikian.

Selain itu, kesulitan mencari bahan kayu sebagai pengganti bagian-bagian rumah panggung yang rusak menjadi alasan sebagian warga untuk membiarkan pelapukan bangunan rumah panggung. Hal itu tanpa ada upaya alternatif lain untuk memperbaikinya.Demikian juga proses pembagian warisan yang juga harus membagi-bagi aset berupa rumah, menjadi penyebab lain tidak utuhnya rumah panggung warisan orang tua atau leluhur.

Menurut Daud, perlu dibangun kesadaran baru di kalangan generasi muda sekarang untuk membentuk kembali kearifan lokal dari transformasi budaya, yaitu dengan memahami dan mendalami kultur yang ditinggalkan datuk moyangnya.
 
 
can/way