Kampung Unik di Jembrana, Bali ini Punya Bahasa Sendiri

oleh
Penunjuk di Kampung Loloan Timur - foto: Koranjuri.com

Pada masanya, kerajaan Jembrana saat itu dipimpin oleh keturunan I Gusti Ngurah Pancoran. Melihat kedatangan imigran yang cakap dan terlatih, penguasa setempat merasa senang. Pasalnya, mereka adalah tentara-tentara yang terlatih dan memiliki persenjataan lengkap. Situasi makmur dan aman pun bisa terwujud.

Hingga setahun kemudian, KerajaanBuleleng yang iri melihat keberadaan Jembrana, melakukan penyerangan. Jembrana pun takluk. Selanjutnya, Buleleng mengatur pasar. Mereka membuat dermaga baru di Tibu (semacam cerukan alur sungai) di sepanjang alur sungai Ijo Gading. Muhamad Daud mengungkapkan, dermaga ini dibuat sekitar tahun 1671 dan dinamai Tibu Bunter. Beberapa perahu yang ada di Air Kuning dipindahkan ke Tibu Bunter. Pemukiman dan pasar rakyat juga dibuat di sekitar daerah tersebut.

“Lama-kelamaan pemukiman ini menjadi kampung muslim yang dikenal dengan Kampung Pancoran karena lokasinya juga dekat Tibu Pancoran dan ada juga yang menyebut Kerobokan. Sekarang tempat ini disebut Terusan,” kata Daud yang hingga kini menyimpan arsip yang berupa dokumen penting tentang sejarah berdirinya Kampung ‘Kembar’ Loloan.

Kemudian, pada tahun 1798, datang rombongan dari Pontianak yang merapat di Pancoran. Sebelumnya mereka berada di Lombok untuk berperang melawan Belanda. Rombongan dipimpin Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al Qodery yang bergelar Syarif Tua. Anak buah Syarif Tua berasal dari Bugis, Melayu bahkan dari Arab.

Syarif Tua lalu berkenalan dengan penguasa Jembrana Gusti Putu Handul. Sebagai pendatang, Syarif Tua dan rombongan diberi tempat di sisi timur dan barat Sungai Ijo Gading. Mereka pun melakukan perabasan selama dua tahun untuk membuka pemukiman.

“Dalam bahasa Banjarmasin, liku-liku itu sama dengan Liluan. Lama-kelamaan Liluan itu menjadi Loloan. Di bagian barat sungai dinamakan Loloan Barat sedangkan di timur LoloanTimur,” ungkap Muhamad Daud.

Keberadaan kampung kembar Loloan itu ternyata tidak hanya bersumber dari satu versi sejarah saja. ada versi lain menyebutkan, Loloan berasal dari kata loloh atau jamu. Ketika itu, di Tibu Pancoran banyak pedagang loloh. Karena di wilayah tersebut banyak ditanami bahan loloh, maka daerahnya dikenal sebagai Lolohan atau Loloan.
“Versi kedua adalah yang paling mendekati, kenapa Loloan dinamakan Loloan,” ujar Muhamad Daud.
 
Riwayat Rumah Panggung