Kampung Rusia Ubud Ditutup, Pemerintah Diminta Evaluasi PMA Bukan Cuma Rp10 Miliar

oleh
Ki-Ka: Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjokorda Bagus Pemayun dan Ketua ASITA Bali I Putu Wisnastra - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Penutupan PARQ Ubud yang dikenal sebagai Kampung Rusia mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjokorda Bagus Pemayun.

Ia mengatakan, penutupan itu jadi kebijakan yang harus dipilih untuk menegakkan peraturan. Sebagai daerah pariwisata, Bali membutuhkan turis. Tapi di sisi lain, aturan harus diikuti oleh wisatawan asing yang tengah berada di Bali.

“Momen ini bagaimana kita ingin menegakkan regulasi yang ada, dan ini jadi atensi pemerintah pusat sampai daerah,” kata Tjok Bagus Pemayun, Selasa, 21 Januari 2025.

PARQ merupakan akomodasi pariwisata yang dikelola oleh WNA asal Rusia. Pemerintah Kabupaten Gianyar menyatakan tempat usaha pariwisata itu tak mengantongi izin.

Kemudian, Pemkab Gianyar melakukan penutupan paksa pada Senin (20/1/2025). Kehadiran Satpol PP mendapatkan tekanan dari para pekerja yang khawatir mata pencahariannya bakal hilang.

Kericuhan pun tak dapat dihindarkan. Tapi petugas tetap menyegel tempat itu.

“Kita melihat dari kacamata berbeda ya, asal sesuai regulasi. Yang jelas, siapapun kami terbuka dengan orang asing asalkan sesuai dengan regulasi yang ada,” jelas Tjok Bagus Pemayun.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya mengungkapkan agar pemerintah mengevaluasi kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA) bukan hanya Rp10 miliar.

“Kalau Rp10 miliar kayanya terlalu kecil, sampai usaha yang kecil nanti juga akan diambil, misalnya batas PMA itu minimum Rp100 miliar,” kata Rai Suryawijaya.

Batasan PMA itu menurutnya, untuk memberikan perlindungan kepada usaha-usaha kecil di Bali yang dikelola warga lokal.

“Jangan sampai kalau dibiarkan nanti bakal merebut usaha masyarakat, sampai menyewakan kendaraan pun ikut diambil,” ujarnya.

Di sisi lain, Rai Suryawijaya menyadari kehadiran wisatawan, terutama dari Rusia datang ke Bali karena diberikan kemudahan akses. Namun, kondisi itu diluar perkiraan karena banyak wisman yang melanggar aturan.

“Dulu kita yang menginvite mereka come to Bali, work from Bali, tapi tentunya sepanjang mereka melakukan sesuai aturan, kalau melanggar ya akan ditertibkan,” jelas Rai Suryawijaya. (Way)