KORANJURI.COM – Musisi dari berbagai daerah di tanah air kembali menggelar lokakarya. The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab (IKLIM) menjadi wadah mereka menyuarakan isu lingkungan.
Di tahun ketiga ini, gerakan IKLIM diikuti oleh 15 musisi antara lain, Kunto Aji, Reality Club, Teddy Adhitya, hingga band punk asal Purbalingga Sukatani.
Mereka berkumpul di Ubud, Bali untuk mengikuti lokakarya yang digelar selama 5 hari. Mereka terlibat dalam diskusi dan kolaborasi dari berbagai isu lingkungan.
Usai mengikuti lokakarya, para musisi akan menerjemahkan pengalaman dan refleksi mereka ke dalam karya musik baru. Puncak kegiatan akan diselenggaran di bulan November 2025.
Inisator gerakan IKLIM Robi Navicula mengungkapkan, selama lima hari workshop berhasil membedah sejumlah isu lingkungan yang akan diterjemahkan dalam karya musik dari setiap peserta.
“ketidaklayakan lingkungan kita membawa dampak besar ke masalah pangan, kemiskinan dan bahkan isu yang lebih besar seperti perang saat ini, ada kaitannya dengan sumber daya,” kata Robi di Denpasar, Jumat, 27 Juni 2025.
Di tengah krisis iklim yang kian kompleks, musik dan seni berperan penting dalam membangun kesadaran dan mendorong aksi publik.
Bagi penyanyi dan penulis lagu Kunto Aji, isu iklim memiliki gaung yang kuat. Dia mengatakan tinggal di Tangerang. Dalam keseharian harus menghadapi kualitas udara yang buruk.
“Saya punya dua anak kecil, dan saya ingin mereka tumbuh dengan udara yang layak,
lebih baik dari yang mereka hirup hari ini,” kata Kunto.
Ia mempertanyakan, “Udara itu kan gratis, tapi kenapa kita nggak bisa menikmatinya dengan baik? Kita tahu penyebab dan solusinya, tapi tidak ada tindakan nyata,” ujarnya.
Sedangkan duo asal Purbalingga Sukatani mengungkapkan, menyuarakan isu lingkungan merupakan tugas bersama yang harus dilakukan dengan penuh kesadaran.
Gitaris band Sukatani Muhammad Syifa Al Lufti atau Alectroguy mengatakan, persoalan lingkungan juga berpengaruh terhadap kreatifitas musisi seperti dirinya.
“Jadi, informasi yang saya serap di sini akan sampai kepada publik melalui karya-karya musik yang ada, sehingga efeknya lebih luas dan menggugah kesadaran publik,” kata Lutfi.
Lagu-lagu para musisi IKLIM akan direkam dalam album kompilasi yang akan rilis di akhir 2025. Lagu yang dihasilkan menjadi bagian dari kampanye ‘No Music On A Dead Planet’ yang diinisiasi oleh Music Declares Emergency. (Way)





