KORANJURI.COM – Menjelang bulan suci Ramadan, tradisi nyadran atau ziarah kubur membawa berkah luar biasa bagi Desa Awu-Awu, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo.
Makam waliyullah Syekh Abdul Jalal (Kiai Raden Jalalain) menjadi magnet bagi belasan ribu peziarah yang datang dari berbagai daerah, mulai dari lokal Purworejo hingga luar kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Seperti yang terlihat pada Minggu (08/02/2026) siang. Belasan ribu peziarah datang silih berganti mengunjungi makam Syekh Abdul Jalal ini, baik secara pribadi maupun rombongan.
Ketua Pokdarwis Abadi Jaya Desa Awu-Awu, Tri Sutarti selaku pengelola mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan signifikan jumlah pengunjung dalam dua minggu terakhir.
“Lonjakan pengunjung mencapai 80 persen. Tahun lalu di periode yang sama tercatat 13.000 orang, sementara tahun ini sudah menembus lebih dari 16.000 peziarah. Bahkan pada hari Minggu ini, tercatat 1.700 orang mengunjungi makam sejak pagi buta,” ujar Tri Sutarti, Minggu (08/02/2026).

Bukan sekadar ziarah biasa, para pengunjung tertarik dengan nilai sejarah tinggi di Desa Awu-Awu. Selain makam Syekh Abdul Jalal yang merupakan penyebar agama Islam besar, terdapat pula makam Kiai Ageng Mas Agung Wijoyo (Murid Sunan Giri), petilasan Nyai Ageng Serang, situs Kedaton serta Masjid Tiban dengan “Jembangan Berumbun”, sumber air yang konon debitnya tak pernah berubah dan dipercaya membawa berkah.
Pak Nur Akrom, seorang peziarah asal Kebumen yang membawa rombongan 100 orang, mengaku sengaja memilih Awu-Awu untuk mencari suasana baru.
“Kami membawa rombongan madrasah dan jamaah tahlil. Selain untuk berziarah sebelum puasa, kami ingin mengenalkan sosok ulama besar ini kepada generasi muda agar meningkatkan keimanan,” ungkapnya.
Ramainya peziarah membawa angin segar bagi perekonomian warga setempat. Pelaku UMKM di sekitar lokasi merasakan langsung dampak perputaran uang dari aktivitas wisata religi ini.
Kepala Desa Awu-Awu, Winarto, menjelaskan bahwa pengelolaan makam kini semakin profesional di bawah naungan BUMDes Tetap Jaya dan Pokdarwis Abadi Jaya. Anggota pengelola mengenakan pakaian adat Jawa saat melayani peziarah.
Hery Surana, Direktur BUMDes Tetap Jaya Desa Awu-awu berharap sinergi ini memberikan sumbangsih nyata bagi Pendapatan Asli Desa (PAD) Awu-Awu.
“Kami terus memperbaiki infrastruktur dan menerapkan Sapta Pesona agar peziarah merasa aman dan nyaman,” tambah Hery Surana.
Lantas, siapa sih Syech Abdul Jalal, yang jadi andalan wisata religi di Desa Awu-Awu?
Banyak versi terkait silsilah dan sejarah Syekh Abdul Jalal. Merangkum dari beberapa sumber yang diyakini sohih, dijelaskan bahwa Syech Abdul Jalal merupakan keluarga dalem dari Kerajaan Keraton Cirebon yang diutus mensyiarkan Islam di wilayah pesisir selatan Purworejo pada abad 17 lalu.
Sebelum ke Desa Awu-awu, Syekh Abdul Jalal diperintahkan untuk sowan mematangkan Ilmu dengan berguru kepada para wali di Demak, Kudus dan Muria. Selanjutnya dia dijodohkan dengan putri dari Kyai Santri Gunung Pring di Magelang bernama Nyi Roro Fatimah.
Setelah menikah beliau langsung diutus untuk pergi ke Awu-Awu Langit, Ngombol untuk mensyiarkan Islam bagi warga yang kala itu masih menganut keyakinan kejawen.
Di Desa Awu-Awu, selain wisata religi makam Syech Abdul Jalal juga terdapat makam Nyi Ageng Serang atau Nyi Bagelen yang merupakan istri dari Ki Tumenggung Awu-awu Langit, tokoh leluhur masyarakat setempat. (Jon)





