Himpunan Perupa Payangan Suarakan Budaya Lewat ‘Udhar Banda Karma’

oleh
I Ketut Sunama dan Made Jendra, pelukis yang tergabung dalam Himpunan Perupa Payangan (HPP) dengan karya lukisannya - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Himpunan Perupa Payangan (HPP) menggelar pameran di Santrian Art Gallery Denpasar. Pameran kolosal ini diikuti oleh 18 pelukis yang berasal dari Desa Payangan di Ubud.

Dengan belasan seniman lukis yang terlibat, pameran yang mengangkat tema ‘Udhar Banda Karma’ itu, memberikan cukup banyak sajian seni di atas kanvas.

Dalam tulisannya, Dr. I Nyoman Suardina menyebut, pengunjung pameran tidak akan menghadapi narasi yang seragam. Tapi, disuguhi bentangan spektrum visual yang sangat kaya.

“Proses Udhar Banda Karma ini termanifestasi secara nyata melalui tipologi kreatifitas para anggotanya yang bergerak dinamis.”

Dalam pameran yang berlangsung dari 18 September hingga 31 Oktober 2026 itu, Ketua Himpunan Perupa Payangan I Made ‘Dollar’ Astawa ikut menampilkan karya lukisannya berjudul ‘Save Culture’ yang dihadirkan sebagai ledakan energi.

Di atas latar biru tosca yang retak dan bertekstur, muncul sapuan garis dinamis berwarma oranye, merah, ungu dan hitam yang saling bertabrakan.

Di atas kanvas ukuran 130 cm x 130 cm, Dollar Astawa menginterpretasikan bahwa retakan itu adalah simbol budaya yang tergerus zaman, tekanan, dan modernitas. Sementara garis-garis liar yang menyambar adalah perlawanan.

“la adalah urat nadi tradisi yang menolak putus, terus mencari celah untuk hidup dan menyala. Ini bukan tangisan tapi teriakan,” kata Dollar.

Di situ, Dollar juga memberikan higlight yang menjadi simpul dari pesan, budaya tidak harus pasif di museum tapi harus bertarung, bergerak, dan hidup di masa kini.

Perupa lain I Ketut Sunama yang memamerkan dua karyanya tampil sarat dengan makna perjalanan manusia untuk mengubah kekotoran menjadi kesadaran, kekacauan menjadi kebijaksanaan, dan keterikatan menjadi pembebasan.

Filosofi itu diabadikan dalam lukisan berjudul ‘The Golden Gate’ yang menggambarkan sosok Budha. Tubuhnya tidak dibentuk oleh garis dan anatomi manusia semata.

Tapi, tersusun dari kelopak-kelopak teratai simbol kesucian, kebijaksanaan, dan kebangkitan kesadaran. Teratai tumbuh dari lumpur.

“kebijaksanaan tidak selalu lahir dari keadaan yang sempurna. Justru dari kekacauan, penderitaan, keterikatan, dan pengalaman hidup yang penuh noda, kesadaran dapat perlahan tumbuh,” kata Ketut Sunama.

Sementara, pengusung aliran realisme I Made Jendra menampilkan karya ‘Senyuman Sang Putri: Harmoni Cinta dalam Ikatan Rasa’.

Lukisan ini terinspirasi dari sernıyuman sang putri, momen polos yang menjadi sumber kebahagiaan sekaligus perekat kasih dalam keluarga.

Diolah dengan cat minyak semi-modern, palet keunguan, pink, hitam, oranye, dan putih dipadu dalam motif tetumbuhan merambat, menjadi simbol ikatan batin yang kokoh, saling menguatkan, dan terus bertumbuh seiring waktu.

“Saya tertarik dengan teknik realis karena sulit, dan wajah selalu menjadi fokus obyek yang saya lukis. Karena wajah itu seperti jendela untuk mengetahui lebih dalam apa yang ada,” kata Made Jendra. (Way)