KORANJURI.COM- Kepala Pusat BMKG, Prof.Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D, melalui konferensi pers menyampaikan, gempa tektonik di laut Sulawesi tidak terkait dengan intensitas aktifitas beberapa gunung berapi di tanah air yang akhir akhir ini mulai meningkat.
Justru sebaliknya, gempa tektonik dapat memicu potensi aktifitas gunung berapi. Hanya saja dalam hal ini belum ada laporan adanya peningkatan aktifitas gunung berapi terkait dengan peristiwa gempa di laut Sulawesi.
Gempa terjadi pada pukul 11.20.20 WIB di Laut Flores, 12km arah barat laut Kota Larantuka merupakan gempa bumi dangkal akibat patahan di laut flores karena patahan geser.
Gempa yang awalnya tercatat memiliki kekuatan M7,5 kemudian diupdate menjadi M7,4 di menit kedua dan terus mengalami update sebanyak 4x sampai menit ke empat. Update tersebut penting di lakukan untuk memberikan kecepatan data peringatan dini Tsunami sehingga masyarakat yang berada di kawasan bibir pantai secepatnya dapat melakukan upaya penyelamatan diri menjauh dari pantai.
‘ Gempa susulan terjadi sampai dua puluh kali namun kekuatanya relatif semakin menurun ” Terang Kepala Pusat BMKG menyampaikan.
BMKG mencatat adanya peningkatan tinggi muka air laut pasca gempa, namun hanya sekitar 7cm. Sehingga dua jam pasca peringatan dini tsunami, BMKG kemudian mencabutnya. / Jk
