Gegara Segel Menyegel, Kunjungan Akhir Tahun ke Jatiluwih Terancam Turun

oleh
Puluhan pelat seng menyerupai panel surya sengaja dipasang oleh sebagaian warga pemilik sawah. Reaksi itu sebagai bentuk protes terhadap penyegelan bangunan oleh Pansus TRAP DPRD Provinsi Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pemandangan tak biasa terlihat di daerah tujuan wisata Jatiluwih, Tabanan. Puluhan pelat seng berjajar dipasang di tengah hamparan sawah.

Sejak Panitia Khusus Tata Ruang dan Aset (Pansus TRAP) DPRD Provinsi Bali melakukan penyegelan beberapa bangunan pada Selasa (2/12/2025), warga merespons dengan protes.

Berita Terkait
Mengenal Lelakut, Bado dan Kepuaan, Perangkat Tradisional Pertanian di Jatiluwih

Puluhan pelat seng dipasang menghadap ke jalan. Wisatawan yang datang dengan tujuan menikmati keindahan sawah Jati luwih menjadi tidak nyaman karena silau.

Kepala Pengelola DTW Desa Jatiluwih John Ketut Purna mengatakan, pelat seng yang dipasang warga semakin meluas sejak Jumat (6/12/2025).

“Pertanyaan dari teman-teman Asosiasi travel agent, freelance, guide, driver sudah cukup banyak. Image Jatiluwih menjadi sangat buruk sekarang,” kata John Purna.

Untuk mengambil langkah cepat, John Purna mewakili DTW Jatiluwih telah bersurat kepada Badan Pengelola. Langkah itu diambil demi mengatasi sengkarut yang ada di Jatiluwih, pasca 13 bangunan dinyatakan melanggar dan disegel oleh Pansus TRAP.

“Poinnya saya harus melakukan apa sekarang, kalau dibiarkan akan berapa lama seperti ini. Dampak negatif ini kan besar sekali, citra Jatiluwih jadi buruk sekali,” kata John Purna.

Sedangkan, memasuki liburan akhir tahun, pengelola DTW Jatiluwih mentargerkan kenaikan jumlah kunjungan sebesar 10% dibandingkan tahun lalu. Namun, isu penyegelan telah memantik reaksi pemilik sawah untuk melakukan aksi protes.

“Kalau ini nanti kita tutup salah, dilanjutin, tamu kesini cuma melihat seng, ini kan juga kurang bagus,” ujarnya.

Dikatakan, biasanya jumlah kunjungan wisatawan ke Jatiluwih sudah mulai terlihat naik mulai 15 Desember. Kunjungan terbanyak berasal dari wisatawan Eropa.

John mengatakan, target peningkatan 10% jumlah kunjungan dirasa cukup untuk kondisi Bali seperti sekarang. Menurutnya, masalah kemacetan, sampah dan kerusakan lingkungan di Bali, menjadi isu negatif yang berkembang untuk wisman di kawasan Eropa.

“Di sisi lain, saya melihat isu itu diblow up oleh negara kompetitor seperti Vietnam, jadi ini akan semakin membuat target kunjungan akhir tahun sulit tercapai, bisa target 10 persen sudah sangat bagus,” jelas John Purna.

Di sisi lain, John Ketut Purna membantah Pansus TRAP ikut menyegel Bado atau dangau yang disebut juga berfungsi untuk warung. Setiap pemilik sawah di Jatiluwih memiliki setidaknya satu gubuk untuk menyimpan peralatan bertani dan menambatkan sapi.

“Di sini ada aturan, ukuran bado 3×6 meter tidak lebih dari itu, kalau ada yang lebih dari ukuran yang ditetapkan mereka akan bongkar sendiri,” kata John.

“Jadi tidak benar berita di medsos bahwa pansus menyegel warung warung kecil di sawah,” tambahnya. (Way)