KORANJURI.COM – Definisi politik dapat di artikan dari berbagai aspek sudut pandang yang berbeda. Di sebuah negara moderen, orang kerap membuat satu kelompok politik untuk mewakili ide mereka. Sedangkan sistem politik adalah kerangka kerja yang mendefinisikan metode politik yang dapat diterima oleh masyarakat.
Secara terminologi, politik dapat diartikan dalam beberapa hal diantaranya, usaha untuk memperoleh kekuasaan, memperbesar dan mempertahankan jabatan kekuasaan.
Merujuk pada satu rangkaian tujuan tertentu, politik mempermudah urusan Pemerintah terhadap masyarakat terkait hal positif. Begitu pun untuk masyarakat, dapat memberikan masukan, koreksi dan solusi kepada pemerintah dalam melaksanakan tugasnya.
Di Indonesia, konotasi politik kerap di kaitkan dengan politik praktis yang berorientasi untuk memperoleh kekuasaan dan jabatan.
Seperti halnya pertarungan politik lima tahunan, para elite partai politik akan mempertahankan atau merebut kekuasaan melalui berbagai cara politik. Sehingga menimbulkan dinamika panas di antara partai politik maupun individu elit partai.
Padahal jika kita cermati bersama, pertarungan politik lima tahunan hanyalah pesta demokrasi yang akan terus terselenggara setiap lima tahun sekali.
Oleh karena itu sudah sewajarnya para elit partai menjadikan ajang tersebut sebagai pembelajaran strategi politik. Sehingga, partai politik akan terus berkembang maju sesuai dengan perkembangan yang ada, tidak ada luka diantara elite partai dan tokoh bangsa.
“Dinamika di dalam politik lima tahunan biasa terjadi. Akan tetapi sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kedewasaan, sikap legawa harus dikedepankan usai laga pemilihan selesai. Jika masih ada elit partai yang sakit hati karena kekalahan, itu menunjukan belum adanya sikap kedewasaan dalam partai politik tersebut,” ujar Ketua Karya Dharma Pancasila, Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M menyikapi masih adanya segelintir elite partai yang sakit hati imbas dari Pilpres 2024 lalu.
Anggoro, legawa atau ikhlas menerima merupakan salah satu sikap hidup masyarakat Nusantara yang di ajarkan para leluhur agar kita memiliki pegangan hidup untuk tidak memaksakan kehendak.
Menanamkan kesadaran, jika kepentingan negara jauh lebih besar dari pada kepentingan pribadi atau kelompok akan membuat kita tidak terjebak dalam nafsu kekuasaan. Begitu juga kesadaran berpolitik, bahwa kekuasaan politik itu tidak langgeng dan akan terus berputar silih berganti.
Jiwa Ing Ngarso sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani harus dimiliki para elite partai agar mereka dapat menjadi contoh bagi masyarakat.
Di depan harus bisa menjadi contoh, di tengah menjadi pelopor yang bisa memberikan ide dan gagasan kebaikan untuk para pengikutnya. Sedangkan pada saat berada di belakang selalu memberikan dorongan dan arahan yang baik.
Filosofi tersebut diajarkan saat kita belajar di bangku sekolah dasar. Oleh karena itu jika para elite partai sedikit pun tidak memilik jiwa tersebut, maka kita wajib mempertanyakan budi pekertinya.
Seorang pemimpin wajib mengemban amanat jauh lebih besar dari pada pengikutnya. Sebab segala perilaku yang dia buat akan menjadi contoh bagi yang lain. Kebaikan yang dia buat akan berbuah pahala besar. Begitu pun sebaliknya. Contoh perilaku yang tidak baik juga akan mendatangkan kemudaratan besar yang harus dipertanggung jawabkan dunia akhirat.
Pemimpin harus silih asih, asah dan asuh, asih kepada kawan dan lawan politiknya. Sebab dalam dunia politik praktis tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Adanya hanya kepentingan transaksi onal dan kekuasaan semata. Dengan memiliki rasa asih, pemimpin dapat membangun politik santun tanpa harus menjatuhkan.
“Dalam filosofi jawa di kenal dengan istilah ‘kalah tan ngasorake’, menang tanpa harus mengalahkan,” ujar Anggoro mengungkapkan salah satu ajaran filosofi jawa.
Asah, seorang pemimpin harus mampu menjadi contoh bagi para pengikutnya. Memberikan suri tauladan dengan segala kemampuan yang ia miliki, agar dihormati dan di segani baik lawan maupun kawan.
Asuh, seorang pemimpin harus mampu menjadi pengasuh, ngesuhi, ngayomi bagi para pengikutnya. Memberikan contoh yang baik, tidak ban cine ban siladan, tidak membeda bedakan antara satu dengan yang lain.
Dengan pendukung maupun bukan pendukungnya, semua akan memperoleh porsi asuh yang sama. Sebab, belum tentu yang mendukung akan terus menjadi pendukungnya, begitupun sebaliknya.
Pengemban jiwa kepemimpinan akan menjadikan setiap kekalahan satu pelajaran yang berharga. Ia tidak akan sakit maupun dendam. Sebab dendam hanya akan membuatnya jatuh lebih dalam lagi ke jurang kekalahan. Akan semakin kalah dan terus kalah sampai kapan pun.
Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila UNDHA AUB Surakarta ini berharap, para elit partai bersatu menyongsong cita-cita Indonesia Emas 2045. Kekalahan dalam Pilpres maupun Pilkada yang akan berlangsung serentak tahun ini hanyalah kekalahan sesaat.
Partai politik masih bisa meraih kemenangan yang akan datang, asalkan kita mau merubah dan menerima kekalahan tersebut dengan lapang dada.
“Sebab hanya dengan legawa kita bisa melihat kekurangan kita, mengetahui kelemahan diri sendiri, sehingga memiliki keberanian untuk membenahinya. Seluruh elemen bangsa dan partai politik harus bersatu bersama sama membangun bangsa dan negara untuk kemakmuran rakyat, menuju Indonesia emas 2045,” ujarnya. (*)
