KORANJURI.COM – Kalian yang masih suka mengkoleksi batu akik, tentu harus mengetahui bagaimana cara merawatnya. Apalagi yang sengaja menyimpan material batu akik untuk dibuat perhiasan, tentu juga perlu memahami teknik-teknik pemolesan.
Sebab, tidak semua bahan batu untuk perhiasan punya tingkat kekerasan yang sama, ada yang solid tapi juga banyak yang fragile atau rapuh.
Seperti material batu akik Mani Gajah. Karakter batu tersebut cukup mudah retak, bahkan dengan sedikit salah perlakuan bisa membuatnya pecah. Batu fosil seperti jenis Mani Gajah memang butuh ketelatenan untuk memprosesnya jadi perhiasan yang menarik dan istimewa.
Lantas, seperti apa cara mendapatkan dan memoles batu Mani Gajah untuk jadi super istimewa? Serta, apa saja yang tidak disarankan dalam treatment material batu akik Mani Gajah.

1. Pukul-Pukul Ringan
Jika masih dalam wujud bongkahan batu bulat, untuk memecah atau memotongnya cukup dipukul-pukul ringan dengan pukul besi. Sehingga batu akan pecah sendiri sesuai dengan alur atau arah seratnya.
Dengan teknik ini, batu atau bongkahan akan memecah dengan sendirinya. Jika kulit pembungkus sudah pecah, akan terlihat warna bagian inti dalam atau hatinya. Untuk versi paling umum, warna merah madu bersemu kekuningan adalah kualitas paling baik.
Warna itu jika dijadikan batu akik, kristalnya terlihat paling mengkilat. Dan pecahan itu selalu menyesuaikan alur serat batu.
2. Warna Hitam di Kulit Batu Ciri Berkualitas
Batu yang isinya baik, biasanya ditandai dengan kulit luar yang berwarna hitam legam, atau hitam pekat. Kulit itu wujudnya seperti lempung (tanah liat) yang membantu.
Selain dilihat dari tekstur atau karakter kulit pembungkus, bisa juga dilihat dari wujud bongkahan batu. Semakin bulat dan kecil wujud bongkahan, biasanya isi dalamnya lebih banyak mengandung kristal kuning atau merah yang menyala.
Bongkahan kecil ini rata-rata sebesar kepalan tangan atau bola kasti.
3. Tidak Disarankan Memotong dengan Mesin
Cara ini diyakini malah bisa merusak alur atau serat mani gajah, terutama bagian yang sudah mengkristal.
Sehingga sangat sayang, jika seharusnya bisa didapat bagian yang mengkristal, tapi malah pecah atau terpotong gegara dipotong dengan mesin.
Pemotongan dengan mesin tentu saja dilakukan secara lurus sesuai kehendak si pemotong. Nah, cara ini justru malah berisiko mengurangi bagian kristal yang seharusnya muncul. Tapi justru, bagian paling eksotis itu menjadi terpotong atau terpecah lebih kecil. (Way/Med)





