Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Ini Profil Bapak Sandi Negara Roebiono Kertopati

oleh
Foto dok.

KORANJURI.COM – Mayjen TNI (Purn) dr. Roebiono Kertopati, putra terbaik Purworejo, diusulkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN).

Pengajuan Mayjen TNI dr. Roebiono Kertopati untuk menjadi Pahlawan nasional telah memenuhi syarat, baik secara yuridis formal maupun prosedural. Sudah berpedoman kepada UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, untuk memperoleh Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda kehormatan serta Tata cara pengusulan Calon Pahlawan Nasional.

Berikut profil Mayjen TNI dr. Roebiono Kertopati

Dia lahir di Ciamis pada 11 Maret 1914 dari pasangan Raden Bei Soewardjo Kertopati dan Emah Fatimah. Ayah Roebiono adalah Priyayi Jawa keturunan Raden Adipati Tokronegoro I, pendiri Kabupaten Purworejo.

Dari pernikahannya dengan Amalia Achmad Atmadja Roebiono Kertopati, laki-laki yang memiliki hobi sepak bola, atletik, renang, anggar, musik dan dansa ini dikarunia tiga anak, yakni Poppy Surwiyanti Roebiono, Sandrana Roebiono Pasay dan Raskas Priadhi Roebiono.

Roebino Kertopati memiliki 9 saudara, yakni Sabar Muhammad Kertopati, Soetiono Kertopati, Sartono Kertopati, Roewano Tjokro S. Kertopati, Soetiah Kertopati, Maulana Kertopati, Soedjinah Kertopati, Sriwati Kertopati dan Srikati Kertopati.

Riwayat pendidikan Roebino Kertopati, Hollandsch Inlandsche School (HIS) Tahun 1919-1923 di Ciamis, Europeesche Lagere School (ELS) Tahun 1923-1928 di Cicalengka, Lulus, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Tahun 1928-1931 di Bandung, Lulus, Netherlands Indische Artsen School (NIAS)1931-1941 di Surabaya, Lulus, Pendidikan Radiologi RSPAD dan RSUP Djakarta, 1953-1956 di Jakarta dan Kursus Singkat Chusus, Sekolah Staff Komando Angkatan Darat (SESKOAD) Tahun 1966 di Bandung.

Foto dok.

Roebiono Kertopati adalah Bapak Persandian Negara Republik Indonesia. Sebelumnya ia adalah seorang dokter di Kementerian Pertahanan RI bagian B (intelijen). Pada tanggal 4 April 1946, dr. Roebiono Kertopati dengan pangkat Letkol. mendapat perintah dari Amir Syarifuddin, Menteri Pertahanan RI saat itu, untuk mendirikan sebuah badan yang mengelola persandian nasional.

Roebiono tidak mengenyam pendidikan persandian secara formal, tetapi hanya berupa kursus singkat pengenalan sandi dari kementerian luar negeri Belanda pada tahun 1949. Namun melalui bacaan serta imajinasi, logika dan intuisi, diciptakanlah sistem-sistem sandi sendiri.

Walaupun tanpa ilmu pengetahuan yang memadai mengenai teknis kriptografi dan hanya dibantu oleh tenaga-tenaga yang juga awam sandi, sistem-sistem sandi buatan sendiri tersebut terbukti efektif dan dapat diandalkan untuk mengamankan komunikasi berita di medan peperangan, di dalam perundingan-perundingan antara pemerintah RI dengan Belanda dan dengan PBB, pada komunikasi pemberitaan di perbatasan dan di dalam gerilya di daerah dan pedalaman.