Desa Utak Atik Serangan Gabungkan Teknologi dan Tradisi Berdayakan Masyarakat Lokal

oleh
Lokakarya perakitan lampu berbasis solar panel untuk para nelayan di Serangan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Desa Utak Atik Serangan kembali menggelar pameran purwarupa teknologi dalam Pekan Iklim 2026 di Bali.

Di Banjar Dukuh, Desa Serangan, Pameran Desa Utak Atik menghadirkan prototipe inovasi, demonstrasi teknologi dan workshop teknologi bersama para nelayan.

Penemuan teknologi purwarupa yang dipamerkan di antaranya, Stasiun Pengisian Daya Charging Station Universal Bertenaga Hidrogen (H2MINI).

Generator Produksi Hidrogen Berbiaya Rendah (H2Gen), Generator HHO untuk Jukung Nelayan, Lampu Kepala Ergonomis untuk Nelayan hingga Pencacah Sampah Organik Mobile.

Desa Utak Atik Desa Serangan dimotori oleh Yayasan Culture Art Science Technology (CAST Foundation) dan Fab Lab Bali sebagai hub lokal laboratorium inovasi terbuka.

“Di Desa Utak Atik kali ini kami mengajak para nelayan Desa Serangan untuk membuat lampu blinking jukung bertenaga surya,” kata Founding Partner CAST Foundation Wan Zaleha Radzi di Denpasar, Kamis (15/10/2026).

Lokakarya yang melibatkan nelayan di Desa Serangan itu dipandu oleh mahasiswa Politeknik Negeri Bali (PNB).

Menurut Wan Zaleha, melalukan pengembangan teknologi berbasis lingkungan, para nelayan desa Serangan mampu memanfaatkan dan mengelola energi terbarukan seperti sinar matahari yang tersedia berlimpah ruah di Desa Serangan.

“Sehingga, nelayan bisa jadi pelaku utama masa depan berkelanjutan di daerahnya,” kata Wan Zaleha.

Pegiat teknologi asal Bali Duwi Arsana mengatakan, melalui lokakarya, para nelayan praktik langsung cara membuat lampu kelap-kelip sederhana yang digunakan untuk membantu perahu mengkomunikasi status operasional.

“Jadi, agar dapat dikenali perahu atau kapal lain di malam hari dan saat cuaca buruk,” kata Duwi.

Dengan merakit sendiri perangkatnya, para nelayan tidak hanya mendapatkan solusi praktis yang sesuai dengan kebutuhan melaut. Tapi juga memahami cara kerja energi bersih secara langsung.

Kami harap dari lokakarya ini, nelayan Serangan terbantu aktivitasnya selama melaut dan pebih akrab dengan teknologi,” ujar Duwi.

Kegiatan ini menjadi contoh bagaimana teknologi dapat dikembangkan bersama masyarakat untuk merespons kebutuhan nyata, memperluas keterampilan teknis, dan membuka peluang bagi solusi yang lebih aman dan sesuai dengan konteks lokal.

Teknologi dan Tradisi

Serangan merupakan desa pulau kecil yang terpisah dan daratan di Kota Denpasar. Pulau di yang masuk administrasi Denpasar Selatan yang dihuni sekitar 4.080 penduduk.

Pulau Serangan terdiri dari 6 Banjar dan satu Kampung Muslim, Kampung Bugis yang telah berabad-abad menyatu dalam budaya lokal.

Kepala Lingkungan Banjar Dukuh, Desa Serangan I Wayan Suaka mengatakan, mayoritas nelayan yang ada di Pulau Serangan berusia 50-70 tahun.

Ia berharap, dengan menyatukan teknologi dengan kehidupan tradisional, akan ada regenerasi yang terhubung dengan tradisi melaut.

“Teknologi membantu mempermudah pekerjaan termasuk kehidupan para nelayan. Di sini banyak potensi yang dapat dikembangkan melalui hadirnya teknologi sederhana dan mudah digunakan,” kata Wayan Suaka.

Teknologi Open Source

Founding Partner Meaningful Design Group Tomas Diez mengatakan, dirinya melihat desa sebagai unit spasial yang ideal untuk mengatasi masalah utama di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Kendala yang dihadapi masyarakat menurutnya, dapat diatasi dengan teknologi open source dan frugal. Melalui karya inovatif di Desa Utak Atik Serangan, energi, limbah, polusi, dan mobilitas menjadi sorotan yang saat ini digarap dan dikembangkan.

“Tujuan utamanya adalah menjadikan desa sebagai laboratorium tempat eksperimen dan inovasi terus berlangsung untuk memecahkan masalah lokal,” kata Thomas.

Sementara, Elaine dari Fab Lab mengatakan, model open source menjadikan segala karya teknologi purwarupa menjadi inklusif. Teknologi tersebut dapat dikembangkan, dimodifikasi dan diakses oleh siapa saja.

“Kita tidak patenkan, siapapun boleh memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang ada Desa Utak Atik dan kami punya Kios Utak Atik untuk merancang dan merakit prototipe ini,” kata Elaine. (Way)