KORANJURI.COM – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali mengelola sebuah nursery yang disebut ‘Fish Bone Park’. Tempat pembibitan tanaman itu menyimpan 25.941 tanaman dari 83 spesies.
Tanaman itu dipersiapkan untuk mendukung penataan kawasan hijau di area KEK Kura Kura Bali. Rumah bibit Nursery Kura Kura Bali di Fish Bone Park, saat ini menjadi tempat ribuan tanaman dirawat sebelum ditanam di berbagai area kawasan.
Kepala Departemen Komunikasi BTID Zefri Alfaruqy mengatakan, nursery yang ada bukan sekadar fasilitas pendukung estetika lanskap. Tapi, komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Keberadaan nursery ini mendukung pengembangan vegetasi kawasan sekaligus membantu menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan nyaman,” kata Zefri, Selasa, 20 Oktober 2026.
Berdasarkan data per 11 September 2026, koleksi tanaman yang ada terdiri dari 57 jenis tanaman perdu (shrub) dan 26 jenis pohon (tree).
Zefri mengatakan, landscape Kura Kura Bali terus berkembang. Di tahun 2026, area lanskap kawasan telah mencapai sekitar 240.379 m². Atau, meningkat hampir dua kali lipat sejak 2023.
Sampai sekarang, tercatat ada sekitar 737.441 tanaman pohon dan perdu di dalam kawasan. Jumlah itu, jauh lebih besar dibandingkan di tahun 2023 yang hanya 177.000 tanaman.
Pertumbuhan itu, kata Zefri, menunjukkan kebutuhan tanaman untuk mendukung lanskap kawasan juga terus meningkat.
“Sehingga, nursery di dalam kawasan juga berperan sebagai fasilitas pembibitan internal yang membantu menyiapkan tanaman secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dari total 25.941 tanaman, sebanyak 14.674 tanaman masih berada pada fase semai. 10.746 tanaman berada pada fase sapih. Sedangkan, 521 tanaman berada pada status ready to plant atau siap tanam.
Tabel
| Fase Tanaman | Perdu/Shrub | Pohon/Tree | Total |
|---|---|---|---|
| Semai | 14.534 | 140 | 14.674 |
| Sapih | 9.405 | 1.341 | 10.746 |
| Ready to Plant | 9 | 512 | 521 |
Tanaman Perdu yang Estetik
Dari 83 spesies yang tersedia, tanaman perdu jenisnya cukup banyak, untuk mendukung struktur vegetasi, penutup area serta, elemen estetika lanskap.
Jenis lain jumlah populasi yang juga cukup banyak antara lain, Kenyeri (Nerium oleander) ada 2.764 tanaman, Selada Laut (Scaevola taccada) 2.475 tanaman, dan Cendrawasih (Phyllanthus myrtifolius) sebanyak 3.889 tanaman.
Sedangkan, tanaman pohon atau berkayu dipersiapkan untuk mendukung pembentukan kanopi dan struktur vegetasi jangka panjang.
“Keragaman jenis tanaman jadi bagian dari pengelolaan lanskap Kura Kura Bali, dengan mempertimbangkan fungsi ekologis, karakter lanskap, kebutuhan area, serta kesesuaian tanaman,” jelasnya.
Budidaya tanaman lokal sebagai bagian dari kekayaan vegetasi Bali juga dilakukan di Fish Bone Park.
Tanaman yang dikenal luas oleh masyarakat Bali itu di antaranya, selada laut (Scaevola taccada), widuri (Calotropis gigantea), jepun (Plumeria pudica), jempiring (Gardenia jasminoides), dan andong (Cordyline fruticosa).
Keberadaan Nursery juga terhubung dengan area pengelolaan sampah organik, Island Compost Center (ICC) di Fish Bone Park.
Kompos yang dihasilkan dimanfaatkan kembali untuk pemeliharaan tanaman. Siklus yang berputar dimulai dari sampah organik diolah menjadi kompos, kompos dimanfaatkan untuk mendukung tanaman, dan tanaman kembali menjadi bagian dari lanskap kawasan.
Libatkan Masyarakat Serangan
Saat ini 64% tenaga kerja yang menjalankan kegiatan perawatan Nursery merupakan dari Desa Serangan.
Mereka tergabung melalui tiga mitra kerja yakni, CAREFAST, KKBP, dan PERKASA. BTID berupaya membuka kesempatan kerja dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaan kawasan. Termasuk, kegiatan perawatan tanaman dan lanskap.
Astini dan Dayu, pekerja asal Serangan, menceritakan rutinitas harian mereka di kawasan tersebut.
“Kami mulai bekerja dari jam 8 pagi. Iya kegiatannya mulai dari pembibitan sampai perawatan tanaman, semuanya dilakukan di sini,” kata mereka.
Prinsip Berkelanjutan
Zefri Alfaruqy mengatakan, keberadaan Nursery bukan sekadar fasilitas pendukung estetika lanskap. Tapi bentuk komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Pengembangan lanskap KEK Kura Kura Bali kami jalankan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Zefri.
Melalui Nursery dan pemanfaatan kompos dari Island Compost Center (ICC), Nursery itu menjadi simbol, bagaimana pertumbuhan kawasan dapat berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan dan manfaat bagi komunitas sekitar.
Komitmen yang sudah berjalan akan terus dikembangkan seiring pertumbuhan kawasan dan kebutuhan lanskap. Nursery menurut Zefri, menjadi salah satu upaya Kura Kura Bali membangun lanskap hijau, beragam, berkelanjutan, dan sesuai dengan karakter lingkungan di Bali. (*/Way)
