Bryan Masga Habiskan 12 Liter Susu per Hari Hadapi Kompetisi Latte Art Dunia

oleh
Barista asal Bali Bryan Masga/IG bryanmasga

KORANJURI.COM – Barista asal Bali Bryan Masga bakal bertanding di kompetisi dunia Latte Art yang diselenggarakan di Jenewa, Swiss, 26-28 Juni 2025. Sebelum bertanding di tingkat dunia, para kandidat harus melewati rangkaian kompetisi, mulai dari tingkat liga, regional hingga tingkat nasional. Pemenang nasional akan mewakili Indonesia.

Pemilik Volken Coffee di Canggu dan Dewi Sri, Legian ini mengatakan, persiapan menghadapi kompetisi dunia itu sudah 80 persen. Dalam setiap hari dirinya harus menghabiskan 12 liter susu untuk mengasah ketrampilannya melukis di atas buih-buih secangkir kopi.

“Latihan minimal harus habis 12 liter susu per per hari. Tapi, sebenarnya persiapan mental jauh lebih penting, saya tidak ingin terlalu banyak membebani diri sendiri, yang penting fokus di karya,” kata Bryan di Badung, Senin, 9 Juni 2025.

Menurutnya, wakil Indonesia belum pernah masuk sebagai juara dalam kompetisi World Latte Art Championship. Meski, dalam setiap musim kompetisi Latte Art dunia, negara di Asia menjadi langganan juara dunia.

“Target saya masuk top 6, doakan bisa mencapai posisi itu,” ujarnya.

Selama proses latihan, dia mengatakan memilih tema kartun untuk seni Latte Art yang akan dibuat. Ia menyiapkan beberapa karakter kartun dari film Lion King maupun Garfield. Dalam kompetisi itu, penyelenggara tidak memberikan batasan tema.

“Saya memilih sendiri tema yang akan dibuat, tidak ada ketentuannya dalam kompetisi ini,” kata Bryan.

Perjalanan Bryan di kompetisi nasional dimulai di tahun 2022. la mengikuti kompetisi Latte Art Liga Surabaya. Kemudian, berlanjut ke tingkat regional di Yogyakarta hingga ke tingkat Nasional di Jakarta. Di tahun tersebut, Bryan belum berhasil menjadi juara.

Sementara, untuk menghadapi kompetisi itu Bryan menggandeng pemenang Indonesia Latte Art Champion 2024 Sthira Yabin sebagai mentor. Dalam kejuaraan dunia, keberadaan tim memberikan dampak besar dan menjadi penentu kemenangan.

Yabin menjelaskan, dirinya banyak berbagi pengalaman kepada Bryan untuk menghadapi kompetisi Latte Art musim ini. Seperti diketahui, Sthira Yabin pernah mewakili Indonesia untuk kejuaraan dunia namun harus kandas.

Tahun ini Yabin juga memutuskan memilih absen sebagai peserta di kompetisi tersebut dan memilih menjadi coach. Menurutnya, dalam kejuaraan tingkat dunia, rival punya ambisi besar sebagai pemenang dan sangat detail dalam karya mereka.

“Saya berbagi pengalaman saja dengan Bryan supaya kendala yang pernah saya hadapi tidak terjadi pada Bryan,” kata Yabin. (Way)