BBPPMPV Seni Budaya Yogyakarta Lakukan Pendampingan P5 di SMK Muhammadiyah Purwodadi

    


Cahya Yuana, S.Sos.,M.Pd ,, Widyaiswara dari BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta, saat menyampaikan materi dalam Workshop Implementasi P5 di SMK Muhammadiyah Purwodadi, Purworejo, Kamis (20/10/2022) - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Yogyakarta, melakukan pendampingan pelaksanaan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) di SMK Muhammadiyah Purwodadi, Purworejo, Kamis (20/10/2022).

Dalam pendampingan yang dikemas dalam workshop dengan menghadirkan Cahya Yuana, S.Sos.,M.Pd ,, Widyaiswara dari BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta itu, diikuti oleh sekitar 30 guru .

Dijelaskan oleh Cahya, bahwa pihaknya memang diberi tugas dari Kemendikbudristek untuk melakukan pendampingan dan pelatihan kepada guru-guru, terkait dengan masalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), bagaimana implementasinya di lapangan.

“Saya pernah mendapat pembekalan sebagai pendamping SMK untuk memastikan bahwa P5 itu bisa berjalan dengan baik di sekolah,” ujar Cahya, di sela kegiatan.

Terkait dengan konsep P5, kata Cahya, sebetulnya bertujuan untuk meningkatkan karakter peserta didik dengan berbasis pada enam dimensi, yakni, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, mandiri, bergotong-royong, berkebinekaan global, bernalar kritis dan kreatif.

Sebenarnya, jelas Cahya, pendampingan itu dalam konteks membentuk itu, kira-kira dimensinya apa, bagaimana memahami dimensi, kemudian cara mencapai dimensi itu sehingga terbentuk karakter seperti apa.

Untuk mewujudkan itu, ungkap Cahya, dengan beragam aktivitas. Misalnya, ketika akan membentuk anak itu berjiwa kritis atau mandiri, kemudian dipikirkan kegiatannya apa untuk mencetak anak yang berjiwa kritis dan mandiri, atau kaitannya dengan itu.

“Misalnya tadi teman-teman dari SMK Purwodadi ini akan membuat jamu. Jadi dengan membuat jamu, anak-anak bisa mandiri. Jadi dilatih seperti itu,” terang Cahya.

Di Kurikulum Merdeka, menurut Cahya, pelaksanaan P5 Ini sebagai ko kurikuler. Meskipun ko kurikuler tapi tetap harus ada penilaiannya dan nanti juga harus ada raportnya sendiri yang terkait dengan masalah P5.

“Harapannya teman-teman dari SMK Muhammadiyah Purwodadi segera bisa menyusun tentang P5, melaksanakan P5, kemudian mengamati terkait dengan peserta didik terkait dengan pencapaian dimensi profil Pelajar Pancasila. Sampai nanti di akhir fase membuat laporan kepada orang tua terkait dengan masalah karakter berbasis P5 itu seperti apa hasilnya,” jelas Cahya.

Kepala SMK Muhammadiyah Purwodadi, Sumarjo, S. Fil. I, M. Pd., menambahkan, bahwa kegiatan merupakan pendampingan implementasi Kurikulum Merdeka dari BBPPMPV Seni Budaya Yogyakarta, yang berlangsung selama dua hari sejak Rabu (19/10/2022).

“Kemarin kita sudah ada semacam verifikasi daring dari BBPPMPV Seni Budaya Yogyakarta. Dari situ akhirnya ketemu ada tiga hal yang memang harus didampingi, yakni pembelajaran diferensiasi atau pembelajaran diferensial, tentang assessment dan tentang P5,” kata Sumarjo.

Jadi apa yang disampaikan oleh narasumber, menurut Sumarjo, memang sangat dibutuhkan, artinya jangan sampai ini menjadi hal yang sudah dipahami tetapi terus saja diberikan materi tentang itu.

Sebagai SMK PK yang menggunakan Merdeka Belajar berbagi, ujar Sumarjo, SMK Muhammadiyah Purwodadi nantinya masih harus berbagi kepada SMK yang lain. Kalau pihaknya tidak paham, maka nanti SMK-SMK yang lain juga menjadi sama dan salah. Karena SMK Muhammadiyah Purwodadi sebagai rujukan dari SMK yang lain.

Pendampingan dilakukan dalam rangka untuk memastikan bahwa apa yang sudah dijalankan itu sesuai dengan yang diinginkan kementrian. Dan tugas dari BBPPMPV untuk mendampingi agar sesuai relnya.

“Di lapangan, banyak yang multi tafsir terhadap teks, petunjuk pelaksanaan, keputusan Mentri dan sebagainya. Harapannya, kami menjadi paham bagaimana pembelajaran diferensial dalam suatu kelas bisa berjalan, karena anak-anak tidak sama IQ nya, kemampuannya dalam mengikuti pembelajaran. Juga tentang Asesmen formatif, formatif awal/ diagnostik, asesmen sumatif, dan P5,” pungkas Sumarjo. (Jon)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS