KORANJURI.COM – Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mengingatkan tiga tantangan yang dihadapi dalam pengutamaan bahasa negara.
Tiga tantangan itu antara lain, penggunaan bahasa asing karena tuntutan global, maraknya pemakaian bahasa gaul di kalangan generasi muda serta semangat menggunakan bahasa daerah sebagai gerakan penguatan identitas lokal.
Hal itu diutarakannya saat membuka sekaligus tampil sebagai pembicara pada Forum Diskusi Pengutamaan Bahasa Negara yang berlangsung di Swissbell Hotel Tuban, Senin (5/6/2023).
Pihaknya berharap, forum Balai Bahasa Provinsi Bali melakukan mitigasi agar keberadaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bisa tetap menjadi yang utama.
“Bahasa bukan sekedar sarana komunikasi, bahasa juga merupakan jati diri bangsa. Kita harus bangga karena Indonesia menjadi salah satu negara yang punya bahasa nasional. Sebab tidak semua negara punya bahasa nasional sendiri,” jelas Dewa Made Indra, Senin (5/6/2023).
Namun menurutnya, bahasa nasional saat ini menghadapi sejumlah tantangan. Dewa Indra menyebut, Bahasa Indonesia kerap diposisikan lebih rendah dibanding dengan bahasa lain, khususnya bahasa asing.
“Dalam forum tertentu, seringkali yang digunakan sebagai pengantar adalah bahasa asing. Padahal pelaksanaannya di Indonesia dan pesertanya juga belum tentu seluruhnya paham dengan bahasa yang digunakan,” ujarnya.
Ia mendorong penguatan peran Balai Bahasa untuk mengingatkan pentingnya pengutamaan bahasa negara dalam berbagai forum.
Di lingkup pemerintahan, kata Dewa Indra, pemerintah daerah menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi dan juga surat menyurat.
Kondisi itu menjadi bentuk dari amanat perundangan yang menyatakan, seluruh regulasi yang dikeluarkan pemerintah daerah menggunakan Bahasa Indonesia. Hanya saja, menurutnya, kualitas bahasanya masih perlu ditingkatkan agar digunakan secara baik, benar dan mudah dipahami.
Ia minta, forum yang digagas Balai Bahasa membahas tentang peningkatan kualitas penggunaan Bahasa Indonesia, khususnya di lingkungan birokrasi.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Bali Valentina Lovina Tanate mengatakan, kegiatan yang digelar melibatkan 45 lembaga komunitas literasi. Selain forum diskusi, pihaknya juga menggelar kemah literasi yang bertujuan untuk menguatkan penggunaan bahasa negara di ruang publik.
“Hal ini sejalan dengan tugas yang kami emban yaitu literasi, perlindungan bahasa dan sastra serta penginternasionalan Bahasa Indonesia,” kata Lovina.
Saat ini, bahasa nasional yakni, bahasa Indonesia, mengalami tantangan yang dapat melemahkan posisinya. Terutama, intensitas penggunaan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris.
“Balai Bahasa mendorong sinergi seluruh komponen khususnya penggiat literasi untuk mengatasi persoalan ini,” jelas Lovina. (Way)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS
