Bali Sumbang 53,6% Devisa Pariwisata, Koster Sentil DPR DPD: Ngurusin Sradak Sruduk Ga Manfaat

oleh
Gubernur Bali Wayan Koster memberikan pengarahan penilaian Proper 2025 dan optimalisasi pungutan wisatawan asing di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis, 30 Oktober 2025 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Gubernur Bali Wayan Koster melontarkan kritikan terhadap anggota dewan dan dewan perwakilan daerah (DPD) terkait fungsi legislasinya.

Sentilan itu ia lontarkan saat memberikan pengarahan penilaian Proper 2025 dan optimalisasi pungutan wisatawan asing di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis, 30 Oktober 2025.

Koster mengatakan, sumbangan devisa pariwisata Bali terhadap Indonesia sebesar 53,6%. Bali dengan wilayah kecil diberikan anugerah dan berkontribusi besar terhadap devisa negara.

Tapi menurutnya, alokasi sumber daya belum pernah memikirkan wilayah-wilayah yang memiliki karakteristik spesifik seperti Bali.

“Cuma DPRD/DPD kita itu tidak tahu yang harus dilakukan, harusnya begini begini ini yang diomongin, baru nohok, baru berfungsi dia. Bukan ngurusin sraduk sruduk ke sana kemari, enggak manfaat,” sentil Koster.

“Yang begini yang harus diurusin untuk Bali, baru bener dia, baru jadi anggota DPR dan DPD yang berfungsi untuk rakyatnya yang ada di wilayah itu,” tambahnya.

Gubernur mengatakan, alokasi infrastruktur ke Bali tidak pernah diperhitungkan. Ditambahkan, alokasi pembangunan tidak melihat jumlah cash yang digelontorkan, tapi belanja pemerintah untuk pembangunan di suatu daerah.

“Langkah selanjutnya, saya akan negosiasi ke pusat, ini riil. Bali tidak perlu minta otonomi khusus tapi perhatian khusus, itu wajar, ” ujarnya.

Bali dengan segala tradisi dan budaya yang berkembang di masyarakat menurut Koster, tidak memerlukan pujian dan sanjungan. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan ikut menjaga keberlangsungan pariwisata di Pulau Dewata.

Mengingat, 66% ekonomi Bali ditopang dari sektor pariwisata. “Pujian omongan kosong nggak ada gunanya. Mendingan kita dikasih saja, nih jalan, ini shortcut,” kata Gubernur.

Bali saat ini tengah menghadapi persoalan alih fungsi lahan, sampah, kemacetan, permasalahan lingkungan, hingga perilaku wisatawan nakal. Bali seperti sedang menuai konsekuensi dari kesuksesan pariwisatanya.

Transportasi publik juga menjadi persoalan pelik di Pulau Dewata. Koster mengungkap, pembangunan yang dibiayai oleh APBN tidak pernah memperhitungkan Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia.

Padahal, infrastruktur dan transportasi menjadi penunjang kualitas pariwisata agar memiliki daya saing.

“Kalau kita bandingkan dengan Malaysia dan Thailand, itu kita kalah jauh. Tapi syukurnya di Bali, kita ditolong oleh budaya yang tidak ditemukan di mana-mana,” ujarnya.

Koster mengatakan, kebudayaan Bali untuk menopang pariwisata adalah segalanya. “Maka dari itu kita tidak boleh bosan satu detik pun, untuk urusan budaya,” jelas Wayan Koster. (Way)