Arsip Jurnalistik Koran Dharma Kanda, Media Massa Lawas di Kota Solo yang Menutup Oplah di Era Milenium

oleh
Kolase potongan Koran Dharma Kanda, media massa yang terbit di Kota Solo tahun 1969 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Keberadaan monumen pers, serta jatuh bangunnya industri pers di kota Solo, sejak jaman kolonial hingga republik, meneguhkan Kota Bengawan sebagai kota media massa tanah air.

Namun, ironi dari tempat lahirnya pers nasional, Kota Solo juga seperti ‘kuburan pers’. Karena banyak media, harian maupun tabloid, yang terpaksa harus tutup dan tak bisa melanjutkan produksinya.

Salah satu media pers yang dirintis pada masa pergerakan adalah Koran Dharma Kanda. Diterbitkan pertama kali pada tanggal 15 Oktober 1969, oleh Tukidjo Martoadtmodjo di bawah Yayasan Dharma Pancasila.

Koran berbahasa Jawa itu menjadi platform perlawanan terhadap penjajahan Belanda pada masanya. Praktis, bacaan informasi yang disajikan selalu ditunggu-tunggu publik dan menjadi rujukan utama.

Anggoro Panji Nugroho, cucu dari pendiri Koran Dharma Kanda Tukijo Martoatmodjo yang sekarang menjadi generasi ketiga – foto: Koranjuri.com

Menurut Anggoro Panji Nugroho, cucu dari pendiri Koran Dharma Kanda Tukijo Martoatmodjo, di awal tahun 1970 an, media massa menjadi bagian dari hiburan dan bacaan masyarakat yang sangat menarik.

“Dharma Kanda bukan sekedar menyajikan informasi dan literasi, tapi juga berupaya menjaga pelestarian bahasa Jawa dan kebudayaan tanah air,” kata Anggoro, Selasa, 30 Desember 2025.

Sepanjang masa penerbitan, Koran Dharma Kanda dicetak empat halaman monokrom atau hitam. Anggoro mengatakan, Dharma Kanda mengedepankan kabar berita seputar Surakarta.

“Informasinya seputar peristiwa di Surakarta dan kabar dunia pendidikan, serta berita ringan yang mudah dipahami masyarakat,” ujarnya.

Hampir tiga dasawarsa Koran Dharma Kanda terbit di wilayah Surakarta, tapi memasuki tahun 2000 atau akhir 1990 an, produksinya terhenti hingga sekarang.

Baik ahli waris maupun pemegang kendali yang lain, tidak ada yang meneruskan dalam rupa bentuk kekinian menjadi platform online.

Monumen Pers di Kota Solo, Jawa Tengah – foto: Koranjuri.com

Di awal milenium, satu lagi koran yang terbit dari kota tempat lahirnya pers nasional, Kota Solo, terpaksa harus menutup oplah.

Zaman berubah, platform media berbasis kertas dipaksa mengalah oleh perkembangan teknologi. Tapi, visi dan jiwa pers tetap abadi menjadi bentuk yang baru. (Djk)