Merawat Sejarah di Lorong Museum Majapahit Tanah Lot

oleh
Pengunjung di Museum Majapahit Tanah Lot, Tabanan, Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Aura mistis tetap terasa ketika memasuki lorong demi lorong Museum Majapahit Tanah Lot di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Jangan dibayangkan, bahwa ruangan museum merupakan bangunan tua.

Justru, bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 55 are itu merupakan gedung baru yang diresmikan pada 15 November 2025. Namun, suasana yang ada di dalam museum menjadi bagian dari petualangan menjelajah ruang waktu di awal abad 13 silam.

Arsitektur moderen bangunan seakan tenggelam dalam artefak-artefak yang dipajang di setiap sudut ruangan. Benda bersejarah itu berupa arca sakral, pusaka serta peninggalan kuno dan uang asli pada masa itu.

Semuanya asli dan autentik. Didapat dari hasil penggalian benda purbakala di Ibukota Majapahit, Trowulan, Jawa Timur.

Museum Majapahit Tanah Lot memiliki 20 zona. Setiap zona mengisahkan suatu masa yang berbeda dengan rancangan tata cahaya yang dramatis dan memukau. Pengunjung diajak menjelajahi lorong waktu panjang pada kehidupan yang berlangsung di akhir abad 12 hingga memasuki abad 16 Masehi.

Era Majapahit adalah masa gemilang kejayaan Nusantara yang masih terlihat dari sisa-sisa peninggalan yang terungkap. Cerita itu kemudian dirangkai dan ditempatkan dalam wahana Museum Majapahit Tanah Lot.

“Kami menghadirkan Museum Majapahit sebagai tempat untuk menceritakan peradaban masa lalu, yang dimulai dari peradaban perundagian, kerajaan Bedahulu di Bali sampai era Majapahit,” kata Direktur Utama Museum Majapahit Tanah Lot Bali I Gusti Made Suryantha Putra.

Kehidupan masa lalu itu dirangkai melalui 20 zona diorama 3D imersif berbasis teknologi digital dan augmented reality.

Museum Majapahit Tanah Lot melengkapi destinasi wisata di kabupaten Tabanan – foto: Koranjuri.com

Pada zona pertama pengunjung diajak menonton film berdurasi 5 menit tentang sejarah singkat kerajaan Majapahit. Kemudian, di zona kedua ditampilkan suasana kehidupan pada masa prasejarah di Bali.

Zaman berkembang, masyarakat Bali mulai mengenal pola arsitektur lebih maju yang dikenal dengan era Perundagian. Zona selanjutnya adalah, era Kerajaan Bedahulu dan Kahuripan.

Zona kemudian bergeser di era Singasari. Di ruangan ini juga dipajang diorama berupa patung tentara Mongolia beserta kuda tunggangan. Kerajaan Singasari menjadi titik tolak terbentuknya kerajaan Majapahit,.

Diorama di dalam museum menggambarkan, kekuatan pasukan Kubilai Khan, yang datang ke tanah Jawa untuk menghukum Raja Singasari, Kertanegara. Namun, pada saat yang sama, Kertanegara sudah terbunuh dalam pemberontakan Jayakatwang dan kekuasaan beralih ke Kerajaan Kediri.

Baca Juga
Keseruan Menjelajah Lorong Waktu di Museum Majapahit, Destinasi Wisata Baru di Tanah Lot

Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Raja Kertanegara, membalaskan dendamnya kepada Jayakatwang dengan memanfaatkan kekuatan pasukan Mongol.

Selanjutnya, Raden Wijaya berbalik arah menyerang tentara Mongol. Dia dan pasukannya melancarkan strategi serangan mendadak dan berhasil mengusir mereka dari tanah Jawa. Taktik jitu Raden Wijaya sukses memukul mundur tentara Dinasti Yuan itu.

Kepergian pasukan Tar Tar kemudian dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan Majapahit pada tahun 1293.

“Ke depan kami memproyeksikan menambah teknologi 3D sehingga pengunjung dapat merasakan kondisi pada masa itu dengan bantuan teknologi digital,” kata Suryantha Putra.

Museum Majapahit Tanah Lot bukan sekedar menguatkan keberadaan kerajaan Majapahit. Tapi juga simbol bahwa kehidupan masa lalu masih berpengaruh kuat hingga masa sekarang.

Gedung budaya itu menghidupkan dan mempertemukan kondisi sosial masa lampau dengan peradaban moderen saat ini.

“Misi kami salah satunya, mengembangkan laboratorium perdamaian berbasis toleransi dalam kehidupan sehari-hari, dan wawasan kebangsaan cinta serta bangga terhadap bangsa dan negara,” kata I Gusti Made Suryantha Putra.

Zona terakhir menjadi rangkuman dari perjalanan menyusuri lorong waktu Museum Majapahit Tanah Lot. Zona Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa menjadi slogan abadi untuk menjaga keutuhan NKRI.

Frasa yang tertuang dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular itu menyatukan perbedaan dalam bingkai Nusantara.

“Kita punya kurator. Benda-benda yang ada di sini sudah dikurasi dan dinyatakan autentik dan dibawah naungan D Topeng Kingdom. Museum Majapahit Tanah Lot jadi museum keenam di Indonesia,” kata I Gusti Made Suryantha Putra. (Way)