Dinkes Bali: Virus Nipah Berbahaya, Jangan Makan Buah Bekas Gigitan Kelelawar

oleh
Monitor pemantau panas tubuh yang dipasang di terminal kedatangan Internasional dan domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai, menyusul isu penyebaran virus Nipah - foto: Ist.

KORANJURI.COM – Masyarakat perlu mengetahui bahaya virus Nipah yang dapat menular dari hewan ke manusia. Virus zoonosis ini dapat menyebabkan peradangan otak dan pneumonia paru-paru.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Gusti Ayu Raka Susanti mengatakan, angka kematian kasus dari infeksi virus kelelawar ini rata-rata 47-75 persen.

“Jadi cukup tinggi. Gejalanya ada flu, demam kemudian ada sesak juga dan yang ditakutkan timbul radang otak,” kata Ayu Raka di Denpasar, Kamis, 29 Januari 2026.

Ia menambahkan, inang dari virus Nipah berada di kelelawar dan dapat menginfeksi binatang lain. Menurut Ayu Raka, hewan seperti babi dapat mereplikasi virus tersebut dan ditularkan ke manusia.

Namun, dari penelitian yang dilakukan, hingga saat ini belum ditemukan virus Nipah pada babi. Untuk kewaspadaan dini, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk memantau penyebarannya pada hewan.

“Berkaca pada negara Malaysia yang mengalami KLB tahun 1998-1999, pemerintah setempat harus memusnahkan hewan babi dalam jumlah besar, karena bisa menularkan ke manusia,” kata Ayu Raka.

Untuk mencegah penularan, Ayu Raka mengimbau untuk tetap menjaga perilaku hidup dan sehat dengan cara mencuci tangan.

Selain itu, tidak mengkonsumsi makanan setengah matang, hingga tidak memakan buah yang digigit kelelawar.

“Sebenarnya kewaspadaan sudah dilakukan sejak tahun 2023 melalui surat edaran Kemenkes, jadi sudah cukup lama,” jelasnya. (Way)