Mengapa Bali Jadi Rujukan Studi Pariwisata Nasional, Padahal Wisatawan Domestik Turun?

oleh
Tradisi Memintar masyarakat Desa Adat Serangan, Denpasar - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Penurunan wisatawan domestik pada momen libur Nataru 2025/2026 tidak terkait dengan Bali sebagai barometer pengelolaan pariwisata di tingkat nasional.

Pelaku pariwisata Bali selama ini dinilai sangat siap dengan dengan manajemen pariwisata dan para pelakunya terus membuat terobosan baru.

Kesuksesan Bali mengelola pariwisata tak lepas dari pengalaman panjang. Diperkirakan, destinasi eksotis di pulau kecil ini sudah berkembang sejak tahun 1920 an.

Berita Lain
Green Journey Sukses Bawa ITDC Raih THK Tourism Awards 2026, Sekaligus Boyong Prestasi Seumur Hidup

Hotel berkelas internasional pertama berdiri di Jalan Veteran, Denpasar di tahun 1927. Di awal berdiri statusnya sebagai hotel bintang tiga bernama Bali Hotel. Dibangun oleh Airlines Shipping Belanda.

Sejumlah pesohor dan pemimpin dunia pernah tinggal di hotel itu seperti, Jawaharlal Nehru, Mahatma Gandhi, Ratu Elizabeth, hingga aktor film bisu Charlie Chaplin.

Berita Lain
Bali Keluar dari Fodor’s No List Tahun 2026, Wajib dan Layak Dikunjungi!

Pada tahun 1960, infrastruktur Bandara I Gusti Ngurah Rai mulai dibangun. Selanjutnya, pada tahun 1963, Hotel Bali Beach Hotel diresmikan. Bangunan megah itu dulunya markas tentara Jepang.

Dalam perjalanannya, Bali Beach Hotel berubah nama menjadi Inna Grand Bali Beach dan sekarang menjadi The Meru, badan usaha konglomerasi pemerintah di bawah InJourney.

Sawah terasiring di Desa Wisata Jatiluwih, Tabanan – foto: Ist.

Pengalaman panjang Bali sebagai surga wisata global dan domestik, memberikan nilai tawar yang tinggi untuk menjadi barometer pariwisata nasional.

Event reguler dari festival hingga pameran pariwisata skala internasional berlangsung di Bali setiap tahun. Seperti Bali Beyond Travel Fair (BBTF) yang tahun ini akan digelar pada 28-30 Mei 2026.

Pada pelaksanaan tahun 2025 lalu, ASITA Pengurus Cabang Kota Surakarta untuk pertama kalinya terlibat dalam mempromosikan destinasi wisata.

“Ternyata banyak yang belum tahu tentang Solo, tapi begitu kita kasih tahu, mereka amaze juga, paling tidak banyak yang mau datang fam trip dulu,” kata Mirza.

Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno mengaku, Jakarta perlu belajar pariwisata dari Bali. Menurutnya, Jakarta punya wisata tapi tidak dengan pariwisata. Dia mengatakan itu saat ikut berpameran di 11th BBTF tahun 2025.

Berita Lain
Keseruan Menjelajah Lorong Waktu di Museum Majapahit, Destinasi Wisata Baru di Tanah Lot

Studi banding pengembangan dan pengelolaan pariwisata ke Bali juga menyasar lembaga desa wisata di Bali, yang sukses mengelola berkah alamnya.

Seperti pantai Pandawa, melalui jalur pariwisata Desa Kutuh berhasil menjadi Desa Mandiri Nasional dan berhasil menghapus angka kemiskinan warganya serta mencapai nol pengangguran.

Dengan menyandang predikat Desa Mandiri, mapan secara ekonomi, Desa Kutuh di Kecamatan Kuta Selatan mampu menghidupi 2.000 KK dengan 5.500 jumlah penduduk.

Sekretaris Desa Kutuh Ir. I Nyoman Camang mengatakan, Pantai Pandawa menghasilkan pendapatan rata-rata per kapita warganya sekitar Rp76 juta per tahun.

“Atau berkisar 6 juta/bulan per orang. Untuk pemasukan dari tiket masuk ke Pantai Pandawa berkisar Rp50 miliar per tahun,” kata Nyoman Camang, pada Minggu (29/9/2024) lalu.

Mayoritas warga bekerja di bidang pariwisata. Menurut Nyoman Camang, sumber penghasilan sebagian warganya juga didapat dari usaha pariwisata di Pantai Pandawa.

Kesiapan Bali sebagai destinasi wisata dunia terlihat dari infrastruktur yang memadai. Seperti penyelenggaraan meetings, incentives, conference, exhibitions (MICE).

Ruang konferensi berskala besar yang sanggup menampung puluhan ribu orang, tersedia di sejumlah lokasi seperti di Nusa Dua, Jimbaran, Kuta hingga Sanur, Denpasar. Hal itu didukung oleh infrastruktur dan transportasi yang memadai.

Manajerial pariwisata Bali saat ini banyak diadopsi daerah lain. Pengembangan destinasi wisata di luar Bali mulai berkembang dengan kemiripan yang ada di Pulau Dewata. Tapi, tidak dengan budaya dan tradisi. (Way)