KORANJURI.COM – Bank Indonesia mewaspadai dua hari raya yang jatuh di bulan Maret 2026 berpengaruh besar terhadap inflasi di Bali.
Pada triwulan pertama 2026, masyarakat Bali akan menghadapi periode hari libur Idul Fitri dan Nyepi. Hari besar keagamaan nasional (HKBN) itu jatuh di bulan Maret.
Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan, stabilitas pasokan perlu dijaga. Terutama, komoditas beras dan hortikultura.
“Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan jadi upaya menjaga inflasi melalui penguatan regulasi, stabilitas pasokan dan efisiensi distribusi,” kata Erwin, Selasa, 6 Januari 2026.
Tahun 2026 ini, sinergi akan terus diperkuat melalui intensifikasi operasi pasar yang terencana, pengawasan dan percepatan penyaluran SPHP.
Termasuk, penguatan produksi dalam daerah, kerja sama antar daerah baik intra-Bali maupun dengan luar Bali dan peningkatan efisiensi rantai pasok pangan.
“Membangun ekosistem ketahanan pangan yang inklusif perlu dibangun dengan melibatkan BUMDes, Perumda pangan dan koperasi,” kata Erwin.
Sementara, secara tahunan, inflasi Provinsi Bali mengalami peningkatan menjadi 2,91% (yoy) dari 2,51% (yoy) pada November 2025. Inflasi Bali pada Desember 2025 terjaga dalam sasaran 2,5±1% dan lebih rendah dibandingkan Nasional yang sebesar 2,92% (yoy).
Desember 2025, secara bulanan mengalami inflasi sebesar 0,70% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,40% (mtm).
Inflasi di Provinsi Bali terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kondisi itu terjadi sejalan dengan keterbatasan pasokan akibat curah hujan tinggi di daerah sentra penghasil Bali.
Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, dan tongkol diawetkan. (Way)





