Bukan Perangkap Batman! Turis Datang ke Jatiluwih Benar-benar Disuguhi Landskap Dunia

oleh
Daerah Tujuan Wisata Jatiluwih di Tabanan, Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Jatiluwih bukan hanya destinasi wisata lokal, tapi namanya sudah mendunia seiring pengakuan UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia di tahun 2012.

Hal itu juga terlihat dari kunjungan ke sawah bertingkat itu yang didominasi oleh turis asing, khususnya Eropa. Mereka akan disuguhi oleh panorama dengan keelokan nyata nan otentik, bukan keindahan maya ala medsos.

Sistem subak yang menghidupkan landskap Jatiluwih sudah ada sejak Empu Kuturan dan bertahan sampai sekarang. Bupati Tabanan Komang Gede Sanjaya pernah mengungkap, subak sebagai sistem pengairan tradisional, sudah berlangsung sejak 1.000 tahun lalu.

Heritage ini diwariskan secara turun temurun sejak Empu Kuturan sebagai konseptornya. Karena warisan sistem subak itu, maka UNESCO mengakui sebagai warisan budaya dunia,” kata Komang Gede Sanjaya beberapa waktu lalu.

Usulan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia, dilakukan pada tahun 2003. Lahan sawah yang diusulkan ke badan dunia PBB itu seluas 303 hektar.

Seiring berjalannya waktu, asesor UNESCO Asia Pasifik datang beberapa kali untuk melakukan evaluasi. Mereka merekomendasikan perluasan area nominasi agar sesuai dengan nama bentangan budaya Bali, Cultural Landscape of Bali Province

Selanjutnya, sosialisasi perluasan kawasan nominasi dilakukan kepada 13 subak. Seluruhnya memberikan persetujuan komitmen bersama untuk pelestarian.

Perubahan dan pengembangan diizinkan untuk luar area inti Subak Jatiluwih. Di desa-desa sekitar dapat dipersiapkan homestay, fasilitas kuliner, dan home industry produksi cindera mata berkualitas.

Terhadap Jatiluwih, UNESCO berkewajiban membantu secara finansial jika terjadi bencana alam yang merusak lingkungan Subak Jatiluwih. Bantuan keuangan itu untuk proses pemulihan dan rekonstruksi.

Sedangkan, warisan budaya dunia Subak Jatiluwih mencakup sisi hulu yang berada di puncak gunung Batukaru. Areal tersebut merupakan hulu sistem irigasi berupa, kawasan hutan lindung dan sumber mata air

Kawasan pesisir atau dataran rendah. Areal inilah yang mendapatkan penghargaan bergengsi yang menguatkan reputasi Jatiluwih di tingkat global. Areal itu mencakup, lahan pemukiman serta pusat aktifitas ekonomi dan perdagangan masyarakat.

Selanjutnya, bagian hilir yang berada di lereng Gunung Batukaru. Di situ, merupakan area pertanian subak dan sawah bertingkat yang mengandalkan irigasi dari hulu.

Dan terakhir, kawasan pusat kebudayaan mencakup desa adat, pura dan fasilitas sosial sebagai jantung kehidupan spiritual.

Tiga belas tahun berjalan sejak diakui UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia, Jatiluwih kembali meraih penghargaan pada 2024 sebagai Desa Terbaik Dunia versi UN Tourism.

Kemudian, 27 September 2025, Jatiluwih meraih anugerah ‘Top 100 Green Destinations 2025’ di Montpellier, Paris, Prancis.

Usai meraih anugerah destinasi hijau dunia di Prancis, Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali menggandeng Desa Jatiluwih, sebagai desa wisata berkelanjutan berbasis digital.

Bank Indonesia memfasilitasi kesepakatan kerja sama dengan sejumlah agen perjalanan daring seperti, Traveloka untuk pasar Asia, Eropa, dan Jepang dan Blibli.com untuk pasar domestik. (Way)